TENGGARONG, Arcus GPIB – Ketua Majelis Sinode GPIB Pdt. Drs. Paulus Kariso Rumambi,. M.Si mengatakan, hal-hal yang perlu diperhatikan untuk kemadirian sebuah pos pelkes adalah teologia, daya dan dana.
“Pos-pos Pelkes kalau mau mandiri harus ada penguatan di teologia, daya dan dana. Ini bisa terlaksana kalau bersinergi antara persekutuan, pelayanan dan kesaksian,” kata Pdt. Drs. Paulus Kariso Rumambi,. M.Si, pada ibadah penutupan Bulan Pelkes di Bajem Loa Ulung Kaltim, Minggu (26/6).
Menurutnya, persekutuan, pelayanan dan kesaksian adalah Tri Darma Gereja merupakan panggilan dan pengutusan sebagai warga jemaat.
Hanya saja, katanya, di GPIB saat ini dari hasil penelitian yang pernah dilakukan Pdt. Prof John Haba menyebutkan bahwa Persekutuan masih mendominasi dibanding Pelayanan dan Kesaksian.
“Volume kegiatan GPIB lebih banyak di Persekutuan. Kita lebih senang bersekutu. Apalagi kalau ibadah syukur,” tutur Pendeta yang pernah menjabat KMJ di GPIB Paulus Jakarta ini.
Majelis Sinode dalam pesan Bulan Pelkes mengatakan, pada tahun ini ada beberapa bakal jemaat, yang bertumbuh dari pos pelkes GPIB, akan dilembagakan menjadi jemaat mandiri. Dua di antaranya menjadi tempat pelaksanaan visitasi pelkes, yaitu di bajem Ebenhaezer Kembayan Kalimantan Barat dan bajem Hosana Loa Ulung Kalimantan Timur.
Mengapa Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur? Berdasarkan data pos pelkes per Maret 2022, Mupel Kalimantan Barat memiliki jumlah pos pelkes terbanyak yaitu 78 pos pelkes dan 7 bakal jemaat.
Hal tersebut yang melatarbelakangi pelaksanaan visitasi pelkes dilakukan di Kalimantan Barat. Sementara di Kalimantan Timur, menjadi sebuah upaya perhatian dan keterlibatan GPIB yang berkelanjutan, terhadap wilayah dekat Ibukota Nusantara.
Dalam upaya mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan, GPIB menjalankan panggilan dan pengutusannya di bidang pelayanan dan kesaksian dengan memperhatikan tiga hal yakni: Pertama, upaya pengembangan pos-pos pelkes GPIB menuju kemandirian. Kedua, kesadaran tanggap bencana bagi seluruh warga jemaat GPIB. Ketiga, pelayanan kepada masyarakat kota industri.
Dalam upaya pengembangan pos-pos pelkes GPIB menuju kemandiriannya, maka pesan bulan pelkes tahun ini menekankan pada sinergi bersama untuk menopang kemandirian tersebut.
Salah satu bentuk sinergi yang terjadi, tampak pada komitmen 82 Jemaat Pendamping yang mendampingi pos pelkes/bajem GPIB sampai pelembagaan bahkan pasca pelembagaan.
Tidak hanya itu, tentu saja, keberadaan 247 Jemaat GPIB yang lain, beserta seluruh unit-unit misioner yang ada, turut juga berjalan bersama dalam pengembangan pos pelkes. Hal ini sejalan dengan harapan tema tahunan dalam mengoptimalkan sinergitas di GPIB.
Pelayanan dan kesaksian GPIB juga berupaya menyentuh kaum marjinal masyarakat kota industri. Diakonia karitatif, reformatif, dan transformatif, terus diupayakan untuk selalu menjadi warna berpelayanan dan kesaksian GPIB.
Pelayanan dan kesaksian GPIB juga berada di tengah kuatnya arus sebaran informasi, seiring perkembangan dunia digital. Pada satu sisi, hal ini menjadi media informasi yang dapat memperlihatkan dan memperkenalkan kegiatan bidang pelayanan dan kesaksian, sebagai contoh, tampilan visual kondisi pos-pos pelkes GPIB, termasuk di dalamnya pendidikan anak-anak di pos pelkes. Pada sisi lain, konteks budaya digital, membutuhkan edukasi terkait etika ber-media sosial.
Adalah baik jika seluruh warga jemaat GPIB baik di wilayah perkotaan maupun di pedesaan dapat menggunakan media digital dengan bijaksana sebagai media warta kabar baik dalam berpelayanan.
Pada akhirnya, selamat ber-pelkes bagi seluruh warga jemaat GPIB, mari saling menopang, yang kuat menopang yang lemah, dan kiranya ber-diakonia terus menjadi nafas pelayanan bersama. /fsp