Home / GPIB Siana

Sabtu, 26 Agustus 2023 - 22:34 WIB

Di HUT Immanuel Jakarta, Pdt. Paulus K. Rumambi: Soal Putih, Hitam Sudah Selesai

Ketua Umum Majelis Sinode Pdt. Paulus K. Rumambi, foto bersama dengan Pendeta-pendeta dan Majelis GPIB Immanuel Jakarta

Ketua Umum Majelis Sinode Pdt. Paulus K. Rumambi, foto bersama dengan Pendeta-pendeta dan Majelis GPIB Immanuel Jakarta

JAKARTA, Arcus GPIB – GPIB Immanuel DKI Jakarta mencapai usia 184 tahun. Usia yang tidak singkat bagi sebuah jemaat menapaki perjalanan dari waktu ke waktu dengan segala pergumulan yang dihadapi.

Kue HUT menandai perayaan HUT 184 tahun GPIB Immanuel Jakarta.

Karena itu, pantaslah kalau syukur itu dinyatakan dalam sebuah perayaan yang mengambil lokasi di gedung gereja tersebut, Kamis 24/08/2023. Ibadah syukur pun dinaikkan. Rangkaian ibadah dari puji-pujian berupa paduan suara terangkai indah hingga selesai.

Ketua Umum Majelis Sinode GPIB Pendeta Drs. Paulus K. Rumambi, M.Si dalam sambutannya menyatakan sukacitanya seraya berharap gedung gereja terus mendapatkan peraawatan yang baik.

Pdt. Drs. Paulus K. rumambi, M.Si menyerahkan kue HUT.

“Kita bersyukur kepada Tuhan Yesus, Kepala Gereja karena pemeliharaan gedung gereja ini terus berlangsung. Karena berkat kemurahan kasih sayang Tuhan Yesus sekalaipun belakangan ini setelah direnovasi menjadi berat juga bebannya bagi Majelis Jemaat GPIB Immanuel DKI Jakarta untuk merawat, memeliharanya,” tuturnya.

Untuk itu, kata Rumambi, perlu ada inovasi, perlu ada kratifitas, yang benar-benar bisa mendukung, pemeliharaan gedung gereja. Tapi juga yang terutama persekutuan jemaat tetap sehat, solid, hangat. Sehingga pelayanan dan kesaksian bisa lebih besar lagi dilaksanakan bagi hormat dan kemuliaan Tuhan Yesus sang pelayan Agung.

Pendeta-pendeta yang pernah melayani di Immanuel Jakarta.

“GPIB masih terus mencanangkan gereja yang ramah lingkungan dan gereja ramah anak kiranaya ini juga bisa menjadi perhatian bagi kita semua,” ujarnya.

Disampaikan, diawal September bulan depan atau akhir bulan ini dicanangkan gereja ramah anak di GPIB Paulus bersama dengan pemerintah pusat. Kemudian juga gereja ini yang letaknya sangat strategis kiranya bisa menjadi penggagas untuk mempersatukan icon-icon rumah ibadah yang ada disekitar gedung gereja ini.

Para Ketua Majelis Jemaat di lingkup Mupel Jakarta Pusat turut serta di HUT Immanuel

Menurut Rumambi, ada tiga rumah ibadah berdekatan di sekitaran Immanuel Jakarta. Gedung gereja Immanuel adalah iconnya rumah ibadat umat kristen dilingkup nasional. Sementara rumah ibadah Islam adalah Istiqlal dan katolik adalah Katedral.

Baca juga  JanjiNya Ya dan Amin, Bukan Janji Asal Janji, Jangan Tinggalkan Dia

Tak jauh dari sini, ada gedung Pancasila, 200 meter dari sini. Ada Tugu Monas lambanag pemersatu bangsa yang kiranya bisa mengikat kesatuan-kesatuan bangsa ini. Diharapkan, Immanuel terus bisa menjadi penggagasnya.

Di HUT Immanuel Jakarta, BP Mupel Jakarta Pusat hadir dalam kesempatan itu.

“Saya merindukan nanti 185 tahun ada Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Nazaruddin Umar duduk disini. Ada Kardinal Romo Suharyo duduk disini. Dan ada tokoh-tokoh pemerintah juga yang bisa diundang. Dan tetangga kita Istana Negara,” harap Rumambi.

GPIB adalah gereja multi etnis, bukan gereja suku termasuk siapa-siapa yang nantinya akan menduduki jabatan Fungsionaris Majelis Sinode berikutnya.

Keluarga Douglas-Corputty pada tanggal yang sama merayakan HUT ke-25 Perkawinan.

“Masih saya dengar di 2025 di Persidangan Sinode nanti di Makassar, gantian dong. Kalau sudah putih, hitam. Saya pikir ini apa. Sudah selesai soal hitam, putih, merah, hijau, kuning sudah selesai di GPIB, karena GPIB ini gereja multi etnis jadi bersifat nasionalis kemudian bersifat Pancasilais dan juga bersifat ekumenis. Itu yang menjadi pegangan kita bersama. Nasionalis, Pancasilais, Ekumenis, Itu GPIB,” tandasnya

“Kiranya kita bisa membangun GPIB kedepan lebih baik lagi sebagai gereja multi etnis, bukan gereja hitam, putih.”

Terpilih. Keluarga Lapia terpilih sebagai keluarga yang pertama hadir di gereja bersama keluarga, menerima hadiah Alkitab TB2 berlogo GPIB

HUT GPIB Ke-75

Dalam kesempatan itu Pendeta Drs. Paulus K. Rumambi, M.Si juga menyatakan rasa syukurnya atas capaian HUT GPIB yang mencapai 75 tahun dan dirayakan di Padang dan di Istora Senayan Jakarta.

Pendeta emiritus GPIB akan diundang pada perayaan di Istora Senayan Jakarta nanti dan akan mendapatkan Pin Emas.

Baca juga  Pdt. Teddy Tempati Effatha Jakarta, Pdt. Abraham Mutasi Marga Mulya Yogyakarta

“Pendeta emiritus yang sekarang berjumlah 86 akan mendapat Pin Emas. Ini bocoran, Pin Emasnya beratnya 7,5 gram. Waaahhh….dari Panitia, yang lagi diupayakan. Pendeta emiritus GPIB akan diundang di Istora Senayan,” kata Rumambi.

Dikatakan, memperingati 75 tahun GPIB tahun ini ada dua event yang dilaksanakan. Event pertama, yakni pada Oktober 2023 di Padang Sumatera Barat dan event kedua di Istora Senayan Jakarta 19 November 2023.

Panitia HUT GPIB ke-75 tahun telah melakaukan audiensi ke Gubernur Sumatera Barat dan Walikota Padang dan diterima dengan baik.

“Setelah dilakukan audiensi Gubernur sangat terbuka dengan GPIB untuk merayakan HUT yang ke-75. Bahkan Gubernur mengatakan O.k ibadah syukur di gedung gereja, potong kue HUT di Gubernuran. Bahkan beliau katakan: Ayo, kita joget bersama untuk merayaakan sukacita, kebahagiaan usia 75 tahun,” kata Pendeta Rumambi.

Dalam rangka HUT GPIB tersebut, juga akan dilakukan penyerahan bantuan kepada gereja-gereja di Mentawai yang menurut Pendeta Rumambi gereja disana perlu perhatian.

“Kita akan memberikan sumbangan kepada saudara-saudara kita gereja di Kepulauan Mentawai. Sinodenya sangat kecil, perlu diperhatikan disana saudara-saudara kita dalam rangka 75 tahun nanti di Padang,” tutur Rumambi.

Pelayan Firman Pendeta Abraham Ruben Persang, M.Th, Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Immanuel Jakarta dalam kesempatan tersebut mengajak warga jemaat bersukacita dengan pujian “Ku Tak Pandang Dari Gereja Mana” dan beberapa lagu lainnya dengan bertepuk tangan sebagai tanda sukacita.

“Bersukacita karena tahu dan mengenal siapa Tuhan dan mengalami pengalaman bersama dengan Tuhan. Malam ini, hari ini kita mau mengatakan kita punya pengalaman, kita salah satu generasi dari sekian generasi yang mengalami kasih sayang Tuhan. Kalau bukan Tuhan gereja ini sudah runtuh,” tandas Persang.

Menurutnya, tahun 1945 gereja ini dikuasai oleh Jepang, gereja ini menjadi tempat perabuan. Jadi, kalau malam-malam ada yang berbahasa Jepang, bilang saja arigatogosamaesta.

Dikatakan, gereja Immanuel ada oleh mereka-mereka yang punya visi misi sama untuk sebuah gereja, bukan untuk mencari komisi atau keuntungan tapi bagaimana bisa mewariskan sesuatu bagi generasi berikutnya.

“Angka 184 tahun memberikan kesaksian bagi kita dari generasi ke generasi ada warisan bukan hanya gedung ini tapi ada warisan pengajaran, ada warisan pemahaman, ada warisan pengalaman iman sebagaimana malam hari ini saya dan kita semua, kita mewariskan kepada generasi selanjutnya,” tandas Persang. /fsp

Share :

Baca Juga

GPIB Siana

Bisakah Mengasihi Orang yang Menyakiti, Ini Dia Jawabannya

GPIB Siana

Berdayakan Aset GPIB Ditempat-tempat Strategis, Pdt. P. K. Rumambi: Ada BUMG

GPIB Siana

Sosialisasi Tata Gereja Di Mupel Bali-NTB, Pnt. Robby Wekes: Untuk Menjamin Keharmonisan 

GPIB Siana

Catatan dari Lokakarya CC Sinodal di Sentra #1 – 25 Juni 2022

GPIB Siana

Pendeta-pendeta Emeritus Ngumpul, Bahas Soal Kesehatan Mental

GPIB Siana

Terobosan Sukses, Kolaborasi JATIPON-MENARA KASIH Galang Dana via Event Golf

GPIB Siana

Hidup Bukan Sekadar Hidup, Jadilah Berarti untuk Sesama

GPIB Siana

Layani Tuhan Dengan Motivasi yang Benar, Utamakan Kebaikan Bersama