Home / Germasa

Selasa, 29 Agustus 2023 - 18:30 WIB

Kritik Prof. John Titaley, Politisasi Agama Sumber Penjajahan Baru

Prof. Pdt. John A. Titaley, Th.D dan Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A, foto bersama peserta seminar.

Prof. Pdt. John A. Titaley, Th.D dan Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A, foto bersama peserta seminar.

JAKARTA, Arcus GPIB – Politisasi Agama disebut-sebut sumber penjajahan baru. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Kebangsaan 78 Tahun HUT Kemerdekaan RI, 60 Tahun HUT PIKI, 184 Tahun HUT Gedung Gereja Immanuel 25 Agustus 2023 di Gedung Gereja Immanuel Jakarta.

Terhadap hal tersebut Pendeta Prof. John A. Titaley, Th.D menyebutnya sebagai pelanggaran.

“Negara telah melanggar Alinea Pertama Pembukaan UU 1945,” kata John Titaley seraya menyebutkan, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”.

Kebijakan dengan penetapan agama yang diakui negara telah merampas kemerdekaan bangsa Dayak dengan agama Kaharingan mereka sebelum mereka bergabung dengan Negara Indonesia.

Baca juga  Diskusi Jimly Asshiddiqie Bicarakan Penanganan Pandemi Covid-19

Menurut Titaley, perampasan kemerdekaan itu adalah bentuk penjajahan yang harus dihapus karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan.

Seminar Kebangsaan yang juga dihadiri Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A, John Titaley mengungkapkan, “Dalam percakapan saya dengan Sekretaris Majelis Besar Agama Kaharingan (MBAHK) di Palangka Raya beberpa waktu lalu, dia mengatakan bahwa sebelum Indonesia Merdeka orang-orang Dayak yang beragama Kaharingan telah ikut berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.”

Setelah Indonesia Merdeka, katanya, mereka lalu menjadi bukan orang Indonesia karena Kaharingan tidak termasuk agama yang diakui negara, kecuali menjadi Agama Hindu Kaharingan.

Baca juga  GPIB Mengundang Majelis Jemaat dan BP Mupel di Rakerdal GERMASA Singkawang

Kebijakan negara dalam bidang keagamaan telah mencabut status kemanusiaan mereka. Mereka merasa terjajah. Begitu pula keksaksian mahasiswa saya yang menjadi pendeta GPIB di pedalaman Kalimantan, anak-anak mereka tidak akan menjadi anak Indonesia kalau tidak menjadi penganut salah satu agama yang diakui negara.

Ini betul-betul bentuk kekerasan negara atas warga negaranya, karena politsasi agama yang dilakukan negara atas warganya yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Hukum sebagai acuan kehidupan manusia. Indonesia adalah negara-bangsa modern yang pluralis, menuntut penyesuaian dari komunitas-komunitas agamawi yang monolitik dan eksklusif itu. /fsp

Share :

Baca Juga

Germasa

Pesan Natal PGI dan KWI: Cinta Kasih Kristus Menggerakkan …

Germasa

Diskusi Jimly Asshiddiqie Bicarakan Penanganan Pandemi Covid-19

Germasa

Menag Yaqut Cholil Qoumas: Pancasila Itu Kalimatun Sawa, Titik Temu Keberagaman di Indonesia

Germasa

TEGAS. GPIB Tegas Menolak Kekerasan Terhadap Perempuan

Germasa

Menariknya Model Pembinaan HOTS PDP GPIB

Germasa

Keluhan Pasien Kebanyakan Tensi Tinggi, Asam Urat dan Kelelahan

Germasa

Dari Bumi Nyiur Melambai, Ketua II Pdt Manuel Raintung: Semua Harus Menjadi Pelaku Damai

Germasa

PGI Minta Rawat Kesatuan dan Tidak Tercabik Perbedaan Politik dan Berita Bohong