Home / Pelkat

Selasa, 7 Juni 2022 - 00:50 WIB

Menjadi Tua

Oleh: Dr. Wahyu Lay, GPIB Cipeucang Bogor, Dosen Filsafat

Apa yang akan Anda baca ini, jarang dibicarakan di mimbar-mimbar gereja. Jarang dibicarakan, oleh karena tidak enak untuk dibicarakan. Padahal tidak ada seorang pun yang bertambah muda. Semua orang bertambah tua. Jadi semestinya, menjadi tua adalah sesuatu yang wajar dan alamiah belaka.

Namun demikian, bagi sementara orang, istilah “tua” pun toh sudah punya konotasi buruk. Kurang pantas dan kurang sopan. Jangan diucapkan. Pasti ada orang yang bertanya tentang judul Renungan Minggu ini. Mengapa “Menjadi Tua”? Mengapa tidak “Memasuki Usia Lanjut”, atau “Memasuki Usia Senja”, atau “Menjadi Sepuh”? itu berarti “Menjadi Tua” dianggap sama kadarnya seperti “Menjadi
Pelacur” atau “Menjadi Babu”.

Diterima sebagai kenyataan yang tak terelakkan. Namun kenyataan yang amat disayangkan. Sebab itu agar enak, paling sedikit di telinga, diciptakan istilah-istilah baru untuk membungkusnya. “Pelacur” menjadi “wanita Tuna Susila”. “Babu” menjadi “Pramuwisma”. “Orang Tua” menjadi “Manula”.

Apakah “menjadi tua” itu buruk? Ada, dan banyak, yang memang berpendapat begitu. Ketika orang berfikir bahwa tak ada hidup yang lain dan tak ada dunia yang lain, kecuali hidup dan dunia kita sekarang ini, maka menjadi tua berarti menuju mati.

Menuju mati berarti menuju ke ketiadaan. Menjadi tua juga berarti kesempatan dan kemungkinan untuk menikmati hidup yang satu-satunya ini terus berkurang. Dengarlah apa yang dikatakan Robert Herrick dalam sajaknya berikut ini : Kumpulkan kuncup-kuncup mawar mumpung masih sempat,
Sebab masa tuamu melesat begitu cepat Kuncup mawar yang hari ini mekar begitu anggun
Besok akan pucat, layu, tanpa senyum Usia adalah bagaikan benda apa saja.

Baca juga  Semarak HUT Ke-57 Pelkat PKP, Pdt. Sterra H.M. Gerrits: Hati Perempuan Lebih Peka

Bagus lagi kuat sewaktu belia Lalu kian keropos semakin lama Ada pula, tentu saja, yang berpandangan lain. Orang-orang yang mempunyai cara perhitungan yang berbeda. Mereka berkata, bahwa usia itu seperti anggur semakin tua semakin berharga. Mereka begitu yakin akan kebenaran dari apa yang pernah dikatakan oleh Robert Browning.

“ Bertambah tualah bersamaku, mari!” Sebab disana yang terbaik sedang menanti.” Bagi orang-orang ini, merayakan HUT yang ke 60 atau 70 bukanlah menyongsong akhir, tetapi justru ibarat menyongsong lahir.

Secara fisik, anggota-anggota tubuh manusia memang terus menerus. Tapi itu sebenarnya tak perlu dicemaskan sangat. Sebab, ada yang mengatakan, mata sebenarnya sudah mulai menua ketika orang berusia 10 tahun, telinga ketika orang berusia 20 tahun, dan otot-otot manusia kian menurun kekuatannya setelah orang mencapai usia 30 tahun. Itu berarti, proses penuaan bukan baru terjadi setelah orang berusia 60 atau 70 tahun!

Pada sebelah lain, kemampuan berpikir manusia ternyata masih tergolong muda walau orang yang sudah berusia 50 tahun. Dan kalaupun kemampuan berpikir ini terus menurun juga, (tapi melalui proses yang amat lambat), anda jangan lupa bahwa kemampuan berpikir bukanlah segala-galanya pada manusia.

Baca juga  Yuk Gabung, Bincang Bersama Pengurus Pelkat Pelayanan Anak

Masih ada lagi apa yang disebut perkembangan spiritual. Dan tentang perkembangan spiritual ini, ia tak ada batasnya. Ia dapat terus berkembang, sampai berapa pun usia Anda. Tentu saja dengan syarat, Anda dengan sadar memungkinkannya dan memupuknya agar berkembang.

Saya tahu, pandangan yang penuh optimisme ini tetap saja belum menyakinkan semua orang. Sebab ada yang tetap bertanya-tanya, apa enaknya sih hidup bila hanya spiritual saja? Apa nikmatnya, hidup yang betapa pun rohaniah, tapi tanpa mata untuk melihat atau otak untuk berpikir atau hati untuk mencinta?

Saya ingin mengatakan, bahwa bila kepercayaan Kristiani berbicara mengenai „kebangkitan daging‟, yang mau dikatakan disini bukanlah kebangkitan dari tubuh kita yang renta dan lemah. Tapi kita akan menjadi „manusia baru‟ dalam arti selengkap-lengkapnya dan seutuh-utuhnya.

Kita akan diberi tubuh yang baru, tubuh yang lebih daripada tubuh kita yang lama, bahkan daripada tubuh kita semasa belia pun. Ini tentu sulit untuk kita bayangkan. Tetapi mudah-mudahan cerita berikut ini dapat sedikit membantu, walaupun jangan itu Anda terapkan ke diri Anda sampai ke detaildetailnya. ***

Share :

Baca Juga

Pelkat

Dari ACWC, Ketua DPKP Juanita: “Mengenal Sosial Budaya dan Pergumulan Perempuan”

Pelkat

“Aku Suka Membagi” untuk Kemandirian Pos Pelkes

Pelkat

LOMBA POSTER Anti Kekerasan terhadap Perempuan: Juara I GPIB Kelapa Gading

Pelkat

Mupel Jabar 1 Juara Umum Di Event Temu Karya Pelkat Kaum Bapak Batam

Pelkat

SABTU Ceria Dari Long Mesangat Kaltim, Anak-anak P.A. dan Teruna Berlomba

Pelkat

Lagi, Majelis Sinode Gelar Sosialisasi Gereja Ramah Anak

Pelkat

Wow,…Dewan PKLU Bikin Acara Lomba Penulisan Puisi: Opa Oma Ayo Ikutan

Pelkat

Pembinaan Pelkat Di GPIB Yudea Tangerang: Jadilah Pelayan Berkarakter Yesus