Home / Misioner

Minggu, 23 Januari 2022 - 19:47 WIB

Alam “Fenomenal” di Timur

Oleh: Dr. Wahyu Lay, Dosen Filsafat, GPIB Cipeucang Jonggol Jawa Barat

Seperti halnya dalam bahan-bahan sebelumnya, maka sekarang ini pula perlu dibahas tentang Hinduisme, Budisme, dan Zen. Bagaimana sikap ketiga aliran Timur utama ini terhadap alam?

Alam semesta, untuk Hinduisme, merupakan maya, dan orang yang belum mencapai samadhi tertipu oleh maya tersebut. Karena inti pokok dan hekekat alam adalah dimensi saklarnya, bukan dimensi “profannya”. Dimensi “profan” tersebut. Boleh juga dipandang sebagai “dunia fenomenal”. Hal ynag serupa berlaku juga untuk tubuh manusia: tubuh manusia bisa dilatih, dengan yoga, sedemikian rupa sehingga dimensi “sakral” dari tubuh ditemukan.

Hal itu tercapai bila manusia bertransendensi terhadap keterbatasan-keterbatasan tubuhnya. Sikap dasar Hinduistis tersebut. Sebenarnya tidak amat “metafisis: (mulai dengan Plato); hanya Hinduisme sudah lebih lama dan lebih baik mengenal tubuh manusia, khususnya secara “psikilogis”, daripada halnya di Barat.

Ada satu hal lagi yang membuat sikap Barat dan sikap Hinduistis agak mirip satu dengan yang lainnya : yaitu anggapan bahwa proses alam (dan manusia juga, dalam Hinduisme) bersifat “siklis”. Semuanya yang pernah ada, akan ada lagi; dan semuanya yang ada, pernah sudah terjadi. Anggapan ini didukung oleh dinamisme alam, seperti pergantian musim-musim, irama hidup-mati-hidup, dan lain sebagainya. Untuk Hinduisme tambah lagi ajaran “penjelmaan kembali”, atau “reinkarnasi” (ajaran ini di Barat agak jarang ditemukan).

Sifat “siklis” itu merupaka sifat khas dari kebudayaan Yunani klasik di Barat, tetapi kemudian diganti oleh anggapan Kristiani tentang “sejarah penyelamatan”, yang dianggap bersifat “linear”, dan tidak siklis. Sebaliknya, dalam Budisme tubuh manusia menjadi sarana satu-satunya untuk bisa bersatu dengan seluruh realitas.

Dalam Budime masih dibedakan antara alam fenomenal dan yang “Absolut”, tetapi alam itu sungguh-sungguh merupakan ALAM, dan tidak mirip dengan “DUNIA” yang menjadi pokok utama di Barat. Budisme amat tidak menyenagi pikiranpikiran spekulatif, bahkan sedemikian rupa sehingga, sepanjang abad, tidak jarang para ahli filsafat dari Barat beranggapan bahwa Budime itu sebenarnya merupakan suatu jenis“ateisme”.

Baca juga  HIDUP Dalam Kepatuhan Lewat Pengalaman Empirik

Padahal, anggapan itu pasti berdasarkan salah tafsir : memang Budisme tidak suka berbicara tentang yang Ilahi, karena jika dirasionalisasikan sudah berarti tidak bisa termasuk dalam samadhi itu lagi.

Dengan pengaruh filsafat Tiong-Hoa, maka Budisme sudah mulai menjadi Zen, dan sikap terhadap alam semesta itu berubah menjadi sikap khas yang ber-Zen terhadap alam itu. Para penganut Zen sudah tidak mau membedakan lagi antara yang “fenomenal” dan yang “Absolut”, karena kedua-duanya itu dianggap menjadi hal yang sama. Yang merupakan sifat khas dalam Zen itu adalah sikap terhadap “kekosongan”.

“Kekosongan” itu menjadi seakanakan “arti”, atau “makna” dari alam fenomenal itu, dan tidak berbeda dengannya : hanyamereka yang sudah mencapai satori bisa memahaminya ; bukan secara intelektuil, melainkan secara super-intelektuil, yaitu, secara pengalaman.

Dalam hal ini Budisme berbeda dengan “dialektik” ahli filsafat Jerman Georg Wilhelm Hegel (1770-1831); Hegel memandang yang “fenomenal” dan yang “kosong”sebagai dua unsur yang dipersatukan dalam “sintesis”, tetapi sintesis itu selamanya akan berupa sintesis intelektuil. Budisme justru tidak perlu suatu “sintesis”, sehingga pengalaman satori bisa tetap dihayati.

Namun, di Timur, baik Hiduisme maupun Budisme (termasuk Zen) memiliki beberapa sifat yang jarang ditemukan di Barat, dengan akibatnya dari sudut budaya, manusia itu tidak suka “bersaing”, tidak suka “mengungguli” satu dengan lainnya; dengan perkataan lain: jika manusia seluruhnya dianggap “termasuk” dalam alam sebagai “wadah”nya yang hakiki, maka hubungan antar-manusia juga dijauhkan dari suasana “bersaing”.

Boleh dikatakan juga bahwa pada umumnya manusia di Timur tidak berupa begitu “agresif” seperti
manusia di Barat. Penilaian itu tidak berupa begitu “agresif” seperti manusia di Barat. Penilaian itu tidak berupa “moral” (tentunya keagresifan yang melanggari hak-hak azasi manusia terjadi, sayangnya, baik di Barat maupun di Timur, khusunya sebagai “politik” di tangan orang yang berkuasa, yang tidak mau melepaskan kekuasannya), melainkan lebih “psikis” dan “kultural”.

Baca juga  Dari HUT Ke-41 Yapendik: Pdt. Roberto Wagey: Eksis Menjadi Alat Tuhan Mencerdaskan Bangsa

Orang Barat lebih mencari “keunggulan” dan “penguasaan” terhadap  kekayaan alam; sebaliknya, orang Timur lebih mencari “harmoni” antara manusia dan alam, serta juga dalam hubungan antar-manusia itu sendiri. Jelaslah hal itu juga ada sangkutpautnya dengan penghayatan identitas; jika identitas dicari dalam salah satu “pusat”, khususnya dalam “keakuan”, manusia itu cenderung untuk lebih mudah “memperalatkan” baik kekayaan alam maupun hubungan antar manusia ; “keakuan” itu bahkan
“memperalatkan” tubuh manusia sendiri, seperti sudah kita lihat.

Tentunya, deskripsi seperti ini jangan dilihat sebagai deskripsi “hitam-“putih” ;seperti tak ada manusia yang seluruhnya utuh, maka tak ada kebudayaan yang utuh pula: misalnya Keagresifan sudah tampak dampai pada taraf adanya “kulturosentrisme” juga, orang Timur bisa dipengaruhi oleh ideologi yang secara kultural hampir seluruhnya Barat.

Seperti halnya dengan jaran Marx-Lenin, dalam komunisme. Sebaliknya, warisan Kristiani di Barat sudah lama mengandung sifat “damai”, khususnya dalam “spiritualitas” “khotbah diatas bukit” yang begitu mempengaruhi Mahandas Gandi sebagai orang Hindu yang sejati.Tambahan pula, pengaruh Timur sudah semakin mulai mempengaruhi dunia Barat, dalam berbagai “budaya lawa”(counter-cultures) yang memperkaya kebudayaan Barat.

Dan pada masa mendatang dunia ini akan semakin bersatu dan akibat itu menjadi pula semakin pluralistis, juga secara kultural, Namun, rupa-rupanya deskripsi tadi melukiskan beberapa sifat khas yang penting untuk penelaahan filosofis.

Catatan Penutup
Pandangan filosofis tentang alam mengandung beberapa konsekwensi juga untuk filsafat kebudayaan. Dalam filsafat budaya kadang-kadang dapat kita temukan pandangan bahwa “Man is by nature cultural”, atau “It is man‟s nature to be cultural”. Tentunya tidak semua spek kebudayaan menyangkut langsung sikap manusia terhadap alam.

Padahal, jelaslah bahwa deskripsi terhadap kebudayaaan itu ialah sikap manusia terhadap alam: mau mempergunakannya hampir-hampir “sampai habis”; ataukah mau bersatu dengannya dengan menyegani “kepekaan” alam. Rupa-rupanya ekologi modern mulai menemukan suatu keseimbangan antara kedua sikap dasar itu. ***

Share :

Baca Juga

Misioner

Sekum PGI Minta Berpikir Kritis, Ketua II MS-GPIB Pdt. Manuel Raintung:  Digitalisasi untuk Semua Kategorial

Misioner

Dari Pos Pelkes Sola Fide Pulau Lingka, Natal Bersama Suku Laut

Misioner

Kasus Poster Wanted GMKI Semakin Terang Benderang, Melenial Perlu Pastoral

Misioner

Tuhan Membayar Harga Dosa-dosa, Tetaplah Jaga Kekudusan Hidup

Misioner

“Terbukalah untuk Setiap Informasi, Teguran, Nasihat dan Ciptakan Perubahan”

Misioner

Tiga Tahun Wafat Richard van Der MUUR, Vicora: “Dia Sosok Unik”

Misioner

Pdt. Roberto Wagey Akan Layani Ibadah Syukur HUT Ke-41 Yapendik di GPIB Galilea Bekasi

Misioner

INGAT. Tuhan Akan Datang Kembali untuk Gereja-Nya