Home / Misioner

Rabu, 15 Mei 2024 - 15:43 WIB

41 Tahun Melayani Di GPIB, Pdt. Marthinus Tetelepta Masuki Emeritus

Ketua Umum MS GPIB Pdt. P.K. Rumambi dan pendeta lainnya memberi tumpangan tangan kepada Pdt. Marthinus Tetelepta.

Ketua Umum MS GPIB Pdt. P.K. Rumambi dan pendeta lainnya memberi tumpangan tangan kepada Pdt. Marthinus Tetelepta.

Totalitas pelayanannya luar biasa. Kepekaan dan kecerdasannya dalam melayani menjadi bukti ia mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi baik di internal jemaat atau pun di luar jemaat.

JAKARTA, Arcus GPIB – Tak seperti biasanya, papan bunga berderet di sekitaran gereja. Ada papan bunga dari Irjen Pol. Argo Yuwono, Kombes Pol. Nicolas Ary Lilipaly dan beberapa lainnya.

Terlihat puluhan pendeta mengenakan toga kebesaran GPIB dengan stola putih berlogo GPIB dan simbol salib. Warga jemaat, tamu dan undangan datang memenuhi ruang-ruang ibadah yang ada. Ada apakah gerangan?

Saat-saat “melepas” Pdt. Marthinus Tetelepta memasuki Emeritus.

Pada Minggu, 12 Mei 2024, GPIB Kharisma Jakarta Selatan ternyata sedang melakukan Ibadah Hari Minggu dan Penetapan Emeritus Pendeta Marthinus Tetelepta, S.Th, M.Min, yang telah melayani di GPIB selama 41 tahun. Sebuah perjalanan pelayanan yang tidak singkat, bukti dari kesetiaan seorang hamba-Nya melayani di gereja yang terdapat di 26 provinsi di Indonesia.

Alumnus LEMHANNAS RI, Angkatan XIX tahun 1993 dan Lulusan strata-1 STT INTIM di Makassar tahun 1983 serta strata-2 di UKDW Yogyakarta tahun 2013 mengawali karir kependetaannya sebagai Pelayan Firman dan Sakramen GPIB dalam usia muda yakni 24 tahun pada tanggal 12 Mei 1983 di GPIB Jemaat “Bahtera Kasih” Makasar yang bertepatan dengan Hari Kenaikan Yesus Kristus.

Keluarga besar Pdt. Marthinus Tetelepta dan jemaat di ibadah Emeritus, di GPIB Kharisma Jaksel.

Totalitas pelayanannya  luar biasa. Kepekaan dan kecerdasannya dalam melayani menjadi bukti ia mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi baik di internal jemaat atau pun di luar jemaat. Di internal jemaat ia bisa menyelesaikan berbagai pembangunan fisik beberapa gereja dimana ia ditempatkan.

Di jemaat GPIB Kharisma Jaksel, bersama Panitia Pembangunan bisa menyelesaikan renovasi walau harus memikirkan proses emiritasi dirinya. Namun dengan tegas Pendeta Marthinus mengalah agar Panitia Pembangunan lebih fokus kepada penyelesaian Renovasi gedung gereja Kharisma yang saat ini tampak megah.

”Kita fokus saja kepada penyelesaian renovasi. Soal Emiritus nanti saja. Kalau tidak ada dana mari kita cari,” tutur Pendeta Marthinus.

Buku ”Only by His Grace” atau Hanya Karena AnugerahNya oleh Margriet Mandagie menjadi bagian dari derap layan sang Istri mendukung sang Suami.

Naluri kemanusiaannya sangat tinggi.  Saat menjabat Ketua I MS GPIB ketika menuju pos Pelkes dengan Tim Pelkes dari Balikpapan ke Samarinda menggunakan  mobil berjalan mulus tengah malam. Tak dinyana, dikejauhan terlihat ada kecelakaan, dan ternyata tabrakan mobil dan motor. Tak berpikir lama, Pendeta Marthinus turun dari mobil membantu korban dan menghubungi pihak Kepolisian dan Ambulance untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit.

Baca juga  Presiden Jokowi Di PS XXI, Bangga Ke GPIB, Dirjen Bimas Kristen: Selamat Bersidang

Ketiadaan dana bukan berarti segalanya behenti dan tidak melakukan apa-apa. Bersama Tim Kerja yang dibentuk dan diketuai Penatua James Sinurat, Pendeta Marthinus bergerak masif agar proses emeritus bisa dilaksanakan dan dirayakan sebagai rasa syukur bisa menapaki pelayanan selama 41 tahun di GPIB.

Ketua Panitia Pnt. James Sinurat menyampaikan sambutannya.

Buku acara dikemas sedemikian rupa dengan berbagai ucapan selamat bisa menghasilkan dana yang tidak sedikit. Bersama Tim Kerja semua dituntaskan.

Menurut James Sinurat, penyertaan Tuhan luar biasa dalam pengadaan dana untuk merayakan emiritasi Pendeta Marthinus di GPIB Kharisma Jaksel ini.

”Berangkat dari Nol, tapi ada kuasa Tuhan yang menopang Tim Kerja yang ditetapkan 2 Februari 2024 yang hanya bekerja 101 hari mempersiapkan segala sesuatu untuk terlaksananya ibadah penetapan emeritus,” kata James Sinurat.

Dikatakan, angka nol tapi berbekal semangat, kerja keras, ketulusan serta kerendahan hati Tim Kerja ini berupaya mempersiapkan segala sesuatu dan didukung oleh Penasihat Lily Turangan, Nora Damarjaya dan Prof. John FoEh, juga narasumber, Rexa Pattipeilohy, Prof. James Tangkudung yang selalu membesarkan hati.

Saat Di Pos Pelkes

Pesona pelayanan Pendeta Marthinus di Pos-pos Pelkes saat menjabat Ketua I Majelis Sinode GPIB menggugah warga jemaat. Ia disenangi warga jemaat di Pos-pos Pelkes atas kehadirannya di pelosok-pelosok dalam berbagai kesempatan termasuk saat merayakan Bulan Pelkes.

Saat berada di Long Lameh, Kalimantan Timur  usai ibadah dan akan meninggalkan lokasi Pos Pelkes seorang nenek memanggil-manggil dengan bahasa setempat minta didoakan.

Saat hendak didoakan, sang Nenek minta menunggu seraya memanggil sang suami, si kakek untuk turut serta didoakan. Usai berdoa Kakek dan Nenek dengan anting-anting di telinga terlihat sukacita sembari memeluk Pendeta Marthinus.

Di Bandung, dalam sebuah acara Unduh-unduh di jemaat GPIB Wisma Asih, ia tak segan-segan mengangkat hasil kebun dan menjajakannya kepada setiap warga yang hasilnya dipersembahkan bagi pembangunan jemaat.

Naluri pelayan sebagai pendeta sudah terlihat sejak kecil. Ia sering mengikuti ayahnya berkegiatan di gereja, dan sering juga membantu sang ayah Abraham Tetelepta membersihkan kompleks gedung gereja. Kegiatan di gereja pada masa kecil ini menjadi awal tumbuhnya cita-cita bagi Tetelepta kecil menjadi seorang pendeta.

Anak petani ini lahir di Desa Porto, Saparua, Maluku pada tanggal 20 Maret 1959 dari seorang ibu Martha Nanlohy, Marthinus adalah anak keempat dari 10 orang bersaudara.

Pendeta Marthinus Tetelepta, S.Th, M,Min menikah dengan Dra. Margriet Mandagie, MLIS pada tanggal 30 Januari 1984 di GPIB Bahtera Kasih, Makassar yang saat itu gedungnya masih sangat sederhana. Dari pernikahan itu Tuhan memberikan anak Degrita Gracia Eucharistia Tetelepta dengan nama panggilan Risty dan Presby Theo Abraham Tetelepta dengan nama panggilan Presby.

Baca juga  Menghadapi Pilpres, Jeirry Sumampow, S.Th: Jangan Mau Diadu Domba

Anak pertama, Risty, menikah dengan Dr. Kaspar Situmorang dan Tuhan telah mengaruniakan dua orang anak perempuan yaitu Aubrey Hazeta br. Situmorang dan Averie Hazael br. Situmorang. Anak kedua, Presby, menikah dengan Dr. Valan Tauran, dan Tuhan mengaruniakan seorang anak perempuan yang diberi nama Mialma Canta Tetelepta.

Karirnya Sebagai Hamba Tuhan

Karir kependetaan Ketua I Majelis Sinode GPIB Tahun 2010-2015 yang senang berpelkes ini cemerlang. Itu dapat dilihat rangkaian pelayanan yang pernah dijabatnya selama melayani di GPIB.

  1. Vikariat di GPIB Immanuel Mataram, NTB, tahun 1982-1983.
  2. Diteguhkan sebagai Pendeta GPIB di GPIB Bahtera Kasih Makassar, Sulsel, pada 12 Mei 1983.
  3. KMJ GPIB Bahtera Kasih, Makassar, Sulsel, tahun 1983-1989.
  4. KMJ GPIB Pniel Balikpapan Kaltim, tahun 1989-1994.
  5. KMJ GPIB Immanuel Medan, Sumut, tahun 1994-1998.
  6. KMJ GPIB Efrata Padang, Sumbar, tahun 1998-2001.
  7. KMJ GPIB Maranatha Jakbar, DKI Jakarta tahun 2001-2006.
  8. KMJ GPIB “Galilea” Bekasi, Jawa Barat, di Bekasi, Tahun 2006-2010.
  9. Ketua I Majelis Sinode GPIB Tahun 2010-2015.
  10. Pendeta GPIB dalam Pelayanan Umum, tahun 2010-2016.
  11. KMJ GPIB Bukit Moria DKI Jaksel tahun 2016-2020.
  12. KMJ GPIB Kharisma, DKI Jaksel tahun 2020-2024.

Dalam perjalanan keorganisasian di lingkup GPIB, Pendeta Marthinus pernah menjabat  posisi-posisi mentereng, seperti dibawah ini:

  1. Ketua BP. Mupel GPIB Kaltim I di Balikpapan.
  2. MPH PGI Wilayah Kaltim di Samarinda.
  3. Ketua BP. Mupel GPIB Sumut Aceh di Medan.
  4. MPL PGI Wilayah Sumut di Medan.
  5. Mupel Sumbar-Ridar Kerinci
  6. Ketua MPH PGI Wilayah Sumbar di Padang.
  7. Ketua BP. Mupel GPIB Jakpus.
  8. Ketua BP Mupel GPIB Bekasi.
  9. Ketua I Majelis Sinode GPIB XIX, Tahun 2010-2015.
  10. Ketua I BP Mupel Jaksel.

Dukungan Nyora

Liku pelayanan hingga mencapai 41 tahaun tidak sendiri diarungi Pendeta Marthinus. Ada Nyora, sebutan yang lazim dikenakan pada istri pendeta. Sang istri Dra. Margriet Mandagie, MLIS aktif mendukung sang suami melayani dari satu jemaat ke jemaat lain dimana ditempatkan.

Bahkan, sering terlihat Nyora turut serta mendampingi sang suami menembus Pos-pos Pelkes yang ekstrim, jalan berliku, becek dengan kendaraan seadanya termasuk menggunakan katinting, transportasi perahu motor tempel di Kaltara.

”Menjadi seorang istri pendeta adalah anugerah,” kata Margriet Mandagie.

Menurutnya, mendampingi seorang pelayan Tuhan adalah kesempatan yang Tuhan anugerahkan sebagai pendamping dalam suka dan duka. Sebagai istri yang berkarir dituntut untuk bisa mengatur waktu agar pelayanan pendeta dan rumah tangganya berjalan dengan baik.

Gairah Margriet mendampingi suami dapat diacungkan jempol. Ia tahu persis bagaimana mendampingi sang suami agar pelayanan berjalan dan rumah tangga bisa diselesaikan. Bukti konkrit, Margriet mampu menghadirkan sebuah buku yang mengispirasi bagi pembacanya.

Margriet merilis satu buku ”Only by His Grace” atau Hanya Karena AnugerahNya yang diluncurkana bersamaan dengan penyematan Emiritus sang Suami di GPIB Kharisma Jakarta Selatan yang juga banyak dihadiri oleh istri-istri pendeta dan para undangan lainnya serta jemaat yang hadir. /fsp

Share :

Baca Juga

Misioner

Pendampingan Mahasiswa Teologi GPIB di 4 Perguruan Tinggi

Germasa

Apa Kepala SPN Lido Tahu? Ada Gereja Kok Ibadah Di Rumah-Rumah

GPIB Siana

Leaders Meeting Bandung, Sapaan untuk Perubahan

Misioner

Pesan PGI: Jangan Terjebak Pada Janji-janji Manis

Misioner

Perlu Mengenal Diri? Pdt. Nancy Nisahpih-Rehatta: Agar Kenal Kekuatan dan Kelemahan

Misioner

Perayaan HUT GPIB Ke-75 di Kota Padang Dibuka Ketum MS GPIB Pendeta Rumambi

Misioner

Panitia Konven Pendeta dan PST 2023 Diakhiri, Majelis Sinode: Panitia Bekerja Cepat

GPIB Siana

MS GPIB Mengundang Seluruh Peserta PST Mengikuti  Kegiatan Pra PST GPIB 2024