Home / GPIB Siana / Misioner

Kamis, 29 Februari 2024 - 16:20 WIB

MUPEL Banten Lakukan Penelitian “Survei Pertumbuhan GPIB”

Peserta Workshop – FGD Mupel Banten GPIB di Gereja Filadelfia, 8 Feb 2024.

Peserta Workshop – FGD Mupel Banten GPIB di Gereja Filadelfia, 8 Feb 2024.

Tinggi atau rendahnya kinerja pelayanan suatu gereja akan tercermin pada tingkat kerohanian warga jemaatnya. Makin tinggi tingkat kerohanian warga jemaat (* makin bagus hasil survei spiritualitas-nya) maka berarti makin bagus juga kinerja pelayanan gereja itu.

PADA Jumat, 23 Februari 2024, Gelly Nisahpih, atas undangan Majelis Sinode GPIB, mempresentasikan hasil penelitian berupa survei kuantitatif GPIB Mupel Banten. Acara ini berjudul “Penelaahan Alkitab Tema Tahunan 2024 – 2025”. Beberapa hal dibahas untuk memperkaya tema tahunan GPIB 2024 – 2025, termasuk hasil survei ini.

Pelaksana Redaksi Majalah Arcusarcusgpib.com, Frans S. Pong  tertarik untuk mewawancarai Gelly Nisahpih, sosok yang dikenal sangat mengerti soal Manajemen secara khusus, tentang penelitian itu. Menurutnya, sebetulnya pada presentasi itu, beliau menggantikan Prof Corina Silalahi Riantoputra yang berhalangan hadir. Disampaikan Gelly bahwa survei ini dilakukan diseluruh jemaat Mupel Banten GPIB, pada bulan Oktober – November 2023 lalu.

Prinsip dari survei ini, adalah mengukur tingkat kerohanian (spiritualitas) warga jemaat. Gelly Nisahpih diminta sebagai koordinator dari riset survei ini. Selama 3 minggu survei berlangsung, tercatat ada 1.488 responden yang mengisi survei online ini. Survei diperuntukkan bagi warga jemaat GPIB, untuk Pelkat PT sampai dengan PKLU (usia 12 tahun keatas).

Dari total 1.488 responden, dilakukan filtering, dimana yang mengisi dengan lengkap hanya 930 responden. Kemudian disaring lagi, ada sekitar 10% disingkirkan karena terbukti tidak mengisi dengan serius. Jadi jumlah total responden yang diolah adalah 841 warga jemaat. Jumlah ini sudah cukup memadai sebagai representasi warga jemaat GPIB Mupel Banten.

Semua aktivitas pelayanan yang dilakukan oleh gereja, apakah itu aktivitas Ibadah Minggu, Ibadah Sektor, kegiatan-kegiatan pelkat, pembinaan-pembinaan, retreat, konseling, perkunjungan, seminar, tulisan-tulisan motivasi rohani di warta jemaat dll, semuanya itu fokus tujuannya adalah agar warga jemaat memiliki tingkat kerohanian yang lebih baik, agar jemaat hidupnya benar, agar jemaat hidupnya sesuai Firman Tuhan, keluarganya utuh memuliakan Tuhan dan mengikuti ajaran Alkitab.

Jika warga jemaat memiliki hal-hal tersebut, maka spiritualitasnya dapat dikatakan baik. Pada survei ini, yang diukur adalah memang level kerohanian atau level spiritualitas warga jemaat. Pertanyaan-pertanyaan didalam survei dirancang sedemikian rupa oleh para ahli, sehingga dari jawaban-jawaban yang diberikan, dapat mencerminkan seberapa baik tingkat kekristenan atau level kerohanian warga jemaat.

Semakin baik kinerja pelayanan sebuah gereja, akan tercermin dari semakin tingginya level kerohanian (level spiritualitas) warga jemaatnya.

Survei ini dirancang dengan sangat profesional, melibatkan pakar manajemen gereja, pendeta-pendeta senior, ahli survei, ahli sosial dan ahli teologi. Survei di GPIB Mupel Banten ini menggunakan skema survei yang dilakukan oleh Bilangan Research Center (BRC), yang pernah mengadakan survei yang sama untuk umat kristen seluruh Indonesia pada tahun 2021. Tim Mupel Banten ini mendapatkan izin dari BRC untuk menggunakan skema survei yang sama.

Namun pada bagian akhir survei ada beberapa pertanyaan tambahan yang dibuat oleh Tim Riset Mupel Banten, untuk melihat tingkat relasi antar kelompok warga jemaat. Disampaikan Gelly, pada awalnya tim Mupel Banten ini berniat membuat skema survei sendiri, untuk GPIB.

Karenanya, setelah berdiskusi dengan Prof Corina, maka dikumpulkanlah rekan-rekan yang cukup mumpuni dan mau membantu, seperti Dr Prastopo yang ahli hukum, Pdt Nancy seorang Antropolog yang juga Teolog, Dr Camelia Pasandaran ahli bidang komunikasi dan Yeremia Lalisang PhD, ahli sosial.

Namun, setelah berdiskusi, akhirnya tim memutuskan, bahwa untuk kali pertama ini, tim menggunakan skema survei spiritualitas Jemaat, yang dibuat oleh Bilangan Research Center (BRC) saja. Karena untuk membuat rancangan survei sendiri membutuhkan kajian awal yang cukup makan waktu. Singkat kata, tim mendapat izin dari BRC untuk menggunakan skema survei mereka.

Prinsipnya, ada beberapa aspek penting yang diukur dari survei ini. Pertama mengukur tingkat pemahaman dasar iman kristen warga jemaat (Basic Believe). Kemudian juga diukur tingkat penghayatan warga pada iman kristen yang dimilikinya secara eksklusif (Exclusivity).

Hal berikut yang diukur adalah pengalaman hidup terkait iman kristennya (Experience). Juga diukur tingkat kesetiaan warga jemaat terhadap iman kristennya, terutama implementasi iman kristen dalam bentuk komunal (Meaning & External Practice). Kemudian juga diukur seberapa besar jemaat mengimplementasikan iman kristennya secara pribadi (Personal Practice).

Terakhir, yang diukur adalah tingkat kerinduan jemaat untuk ikut dalam berbagai kegiatan pelayanan gereja khususnya untuk menggapai jiwa-jiwa baru dan jiwa-jiwa yang terhilang (Evangelism & Discipleship).  Untuk mengisi survei on line ini, setiap warga jemaat hanya menghabiskan waktu sekitar 10 – 15 menit. Tantangannya adalah bagaimana mengajak jemaat agar mau meluangkan waktunya untuk mengisi kuesioner survei. Berbagai sosialisasi dan promosi dilakukan, pengumuman melalui warta jemaat, juga dibuat poster-poster serta video-video penjelasan singkat, mengajak jemaat agar mau berpartisipasi dalam mengisi kuesioner.

Berbagai ukuran aspek ini jika dipadukan, maka dipercaya akan menggambarkan tingkat kerohanian atau tingkat spiritualitas dari warga jemaat. Apa yang dilakukan oleh gereja dengan segala bentuk kegiatan pelayanannya, tentunya adalah agar warga jemaatnya terus bertumbuh imannya, agar baik dan benar sikapnya, agar hidupnya sesuai dengan Firman Tuhan.

Sekali lagi, makin baik kinerja pelayanan suatu gereja, tentunya akan semakin baik dan benar juga kehidupan warga jemaatnya, akan makin tinggi spiritualitasnya, yang mana hal ini juga akan tercermin dari semakin tinggi nilai surveinya. Survei ini adalah salah satu alat ukur yang cukup baik buat menilai kinerja pelayanan gereja.

Ada quote menarik yang disampaikan Gelly pada wawancara ini, yang merupakan ungkapan seorang ahli manajemen Peter Drucker, begini : If you cannot measure, you cannot manage. If you cannot measure, you also cannot improve. (Jika kamu tidak bisa mengukurnya, kamu tidak akan bisa juga memanajemeninya. Jika kamu tidak bisa mengukurnya, kamu juga tidak akan bisa meningkatkannya).

Baca juga  Kemarahan Alam Tidak Selamanya Alamiah, Bisa Jadi Itu Peringatan Tuhan

Pada survei yang sama yang dilakukan oleh Bilangan Survei pada tahun 2021 lalu, didapatkan bahwa indeks spiritualitas umat kristen di Indonesia secara rata-rata adalah 3,79. Dalam hal ini, menarik untuk disimak mengenai tingkat kerohanian orang kristen Indonesia, jika dilihat dari aliran gereja yang melayaninya, berdasarkan hasil survei BRC tahun 2021.

Umat kristen Indonesia dari kalangan gereja pantekostal – kharismatik ternyata memiliki level kerohanian yang paling tinggi dibandingkan umat kristen dari aliran gereja lainnya. Disusul kemudian oleh umat kristen beraliran gereja injili pada urutan kedua (3,81). Sedangkan umat Kristen beraliran gereja “mainstream” seperti GPIB, GKI, GKJ, HKBP dll. tingkat kerohaniannya adalah yang paling rendah (3,75). Sekali lagi, skema survei dibuat oleh tim yang terdiri dari berbagai aliran kristen. Jadi, survei ini cukup fair.

Ada sedikit perbedaan antara survei yang dilakukan oleh Bilangan Research Center (BRC) dengan yang dilakukan GPIB Mupel Banten. Pada survei BRC, yang menjadi responden hanyalah warga jemaat biasa dan juga pekerja gereja. Yang dimaksud pekerja gereja disini adalah seperti Pelkat dan Komisi, kalau di GPIB. Sedangkan survei di Mupel Banten, yang menjadi responden termasuk warga jemaat biasa, unit misioner dan juga para presbiter.

Pada survei di GPIB Mupel Banten ini, hasilnya ternyata secara umum, angka tingkat kerohanian dari warga jemaat GPIB Mupel Banten, lebih rendah daripada tingkat kerohanian umat kristen di Indonesia. Kalau rata-rata tingkat kerohanian umat kristen Indonesia adalah 3,79 maka warga GPIB Mupel Banten, tingkat kerohaniannya adalah 3,65.

Padahal Mupel Banten respondennya termasuk presbiter, sedangkan survei umat kristen Indonesia tidak termasuk presbiter. Bahkan GPIB Mupel Banten juga lebih rendah dibanding tingkat kerohanian gereja-gereja mainstream di Indonesia (3,75).

Tim ini kemudian mencoba menghitung ulang hasil survei GPIB Mupel Banten, dengan mengeluarkan semua responden presbiter (majelis + pendeta), supaya bisa dikomparasi “apple to apple” dengan hasil survei BRC, dan hasilnya ternyata tingkat spiritualitas GPIB Mupel Banten menjadi lebih rendah, yaitu : 3.62.

Hasil survei di GPIB Mupel Banten ini kemudian dibuat workshopnya pada tanggal 8 Februari 2024 oleh Badan Pengurus Mupel Banten GPIB. Workshop dilakukan dengan membuat diskusi-diskusi kelompok dengan metoda Focus Group Discussion yang membahas tentang perbaikan-perbaikan apa yang harus dilakukan oleh gereja untuk meningkatkan aspek-aspek kerohanian jemaat yang dinilai masih rendah.

Workshop mengundang KMJ-KMJ, Pendeta Jemaat, Vikaris, Ketua 5 dan Komisi Inforkom Litbang setiap jemaat. Beberapa hal menarik yang tercatat dari hasil diskusi pada workshop dan FGD adalah sebagai berikut :

  1. Dari hasil survei ternyata Firman Tuhan yang ditaburkan selama ini tidak cukup untuk bisa mengubah kehidupan warga jemaat. Firman Tuhan yang ditaburkan kurang kena untuk dapat mengatasi pergumulan jemaat. Dalam hal ini, gereja dianggap kurang bisa mengerti pergumulan warga jemaatnya.
  2. Hasil survei mengatakan bahwa tidak cukup banyak warga jemaat yang merasa haus akan Firman Tuhan. Dalam hal ini gereja dianggap tidak terlalu mendorong atau mengajak jemaatnya untuk mau membaca dan lebih memahami Firman Tuhan.
  3. Banyak warga jemaat yang menyatakan bahwa mereka tidak mengerti dengan tujuan hidupnya. Dalam hal ini gereja dianggap kurang memberikan pengajaran yang efektif kepada warganya, agar warga jemaatnya dapat memahami tujuan hidupnya masing-masing sebagai umat kristen.
  4. Cukup banyak warga jemaat yang menjawab pertanyaan bahwa mereka tidak membaca Firman Tuhan setiap hari. Gereja harusnya mendorong jemaatnya untuk mau membaca Firman Tuhan setiap hari.
  5. Warga jemaat GPIB Mupel Banten, dari jawaban kuesioner menyatakan bahwa mereka kurang dalam melaksanakan persekutuan internal keluarga. Persekutuan keluarga yang lemah berimbas pada lemahnya juga tingkat keimanannya. Gereja harus membuat Program Kerja yang mendorong keluarga-keluarga untuk memperbanyak persekutuan internal keluarga.
  6. Untuk semua golongan usia responden secara umum, menyatakan bahwa jika ada permasalahan hidup maka yang paling dipercaya adalah orang tua. Hal ini mengingatkan pada gereja bahwa gereja harus cukup dalam membekali orang tua untuk menjadi teladan.
  7. Dari jawaban responden juga, cukup banyak yang merasa bahwa dirinya tidak berguna. Ini cukup menjadi pekerjaan rumah (PR) buat gereja, untuk memberikan pemahaman yang baik serta efektif kepada warganya, bahwa mereka adalah orang-orang yang berguna dimata Tuhan.
  8. Dari jawaban yang diberikan dinyatakan bahwa warga jemaat juga jarang sekali dalam melakukan refleksi diri atau evaluasi diri tentang makna hidupnya.
  9. Pada pertanyaan apakah warga jemaat memberikan prioritas pada pertumbuhan rohaninya, jawaban jemaat sebagian besar adalah ragu-ragu. Padahal, pertumbuhan rohani adalah hal utama dalam hidup umat Kristen. Ini juga harus menjadi PR bagi gereja.
  10. Dari jawaban yang diberikan, ternyata kesadaran memberi warga jemaat GPIB Mupel Banten sangat kurang. Sebanyak 72% jawaban berwarna merah, 17% kuning dan hanya 11% berwarna hijau. Warna hijau artinya confirm memberikan persembahan secara rutin. Pada diskusi di workshop, peserta diskusi banyak membandingkan dengan kesadaran memberi persepuluhan dari jemaat beraliran kharismatik – pantekosta yang cukup ketat dalam memberikan persepuluhan buat gereja.
  11. Cukup banyak warga jemaat yang mencari kebenaran Firman Tuhan lewat media-media sosial. Hal ini juga perlu diingatkan bagi gereja-gereja GPIB untuk memanfaatkan media sosial dalam upaya menyebarkan Kabar Baik Firman Tuhan.
  12. Dalam diskusi, para peserta workshop banyak yang menyarankan agar presbiter GPIB, baik pendeta-pendeta maupun majelis-majelisnya untuk dibina lagi dengan intensif bagaimana cara berkhotbah yang baik, yang menarik dan yang menjawab pergumulan jemaatnya. Dari hasil survei, 80% jemaat menjawab bahwa mereka membutuhkan khotbah-khotbah yang baik untuk pegangan hidup mereka.
  13. Perlu juga dilakukan pembinaan-pembinaan yang lebih intensif serta efektif buat warga jemaat tentang pemahaman dan penghayatan iman serta bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada diskusi hari Jumat lalu itu, Gelly menyampaikan bahwa mungkin harus dikaji ulang materi pembinaan tentang pemahaman iman GPIB, cara menyampaikannya, termasuk narasumbernya dan juga memonitor bagaimana implementasinya di jemaat.
  14. Penyebaran Kabar Baik Firman Tuhan tidak melulu hanya melalui khotbah-khotbah saja, namun bisa melalui tulisan-tulisan pada warta jemaat dan dimasukkan kedalam website gereja, instagram gereja atau facebook-facebook pelkat dan sektor. Bisa juga dibuat video-video singkat tentang hidup baik dan benar yang disebarkan pada Whatsapp group sektor, komisi ataupun pelkat.
  15. Terlontar juga dalam diskusi di group bahwa pembinaan-pembinaan di GPIB sebetulnya tidak kurang, terutama buat presbiter, komisi dan pelkat, namun yang kurang adalah implementasi dari pembinaan tersebut di jemaat. Perlu dibuat strategi untuk menjelaskan bagaimana menerapkan pengetahuan yang didapat dalam pembinaan dalam bentuk implementasi yang real di jemaat. Penerapan ini juga harus terus dikontrol dan dimonitor, untuk memastikan bahwa berbagai pembinaan yang diberikan, benar-benar diimplementasikan di jemaat.
  16. Peserta FGD sepakat bahwa survei seperti ini dapat dijadikan sebagai salah satu alat ukur untuk melihat kinerja pelayanan gereja dan juga mengukur pertumbuhan gereja.
  17. Sebetulnya masing-masing jemaat GPIB Mupel Banten, jika mau, maka bisa dipilah-pilah dan dipisah-pisah, hasil surveinya, maka setiap jemaat bisa melakukan analisa sendiri-sendiri untuk jemaatnya masing-masing, agar mendapatkan masukan yang spesifik buat jemaatnya. Setiap jemaat dapat menjadikan hasil survei ini sebagai salah satu referensi dalam membuat program-program kerja.

Workshop – FGD Mupel Banten GPIB di Gereja Filadelfia, 8 Feb 2024.

Pada saat tulisan ini dibuat, menurut Bp Gelly Nisahpih, saat ini sedang dilakukan perumusan Brief Policy sebagai hasil dari riset survei ini, yang akan disumbangkan buat Mupel Banten GPIB, berupa rangkuman hasil riset dan rekomendasi-rekomendasi untuk pelayanan gereja yang lebih baik kedepan.

Baca juga  Wow,...75 Tahun GPIB, Pendeta Emiritus akan Mendapatkan Pin Emas

Selain Gelly Nisahpih sebagai koordinator, riset survei ini juga secara intensif disupervisi oleh Prof Corina Silalahi Riantoputra PhD. Diketahui bahwa Prof Corina adalah guru besar di Psikologi UI, dan beliau saat ini masih menjabat sebagai Dewan Penasehat MS GPIB. Beberapa nama lain yang terlibat dalam survei ini seperti Dr Prastopo SH MH, Pdt Dr Nancy Nisahpih Rehatta MTh., Sdr Jeremia Lalisang S,Sos MSc PhD, Dr Camelia Pasandaran Msi. Untuk survei Mupel Banten ini, dimasukkan juga Pdt Dr Yessi Anggraini Hutapea sebagai anggota tim yang banyak membantu analisa tim.

Survei juga banyak dibantu oleh seorang mahasiswi Psikologi UI, Priscylia Salombe, anggota jemaat GPIB Obor Banten dan Dora Sudarsono dari Inforkom Litbang GPIB Filadelfia. Riset ini adalah program dari Mupel Banten GPIB, yang diketuai oleh Pdt Daniel Lumentut dan juga dengan dukungan kuat dari Bp Elizar Hasibuan sebagai Ketua 5, Mupel Banten.

Menurut Gelly, jika dicermati dari analisa hasil survei, maka terlihat bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin tinggi juga angka spiritualitasnya. Juga semakin seseorang terlibat dalam pelayanan gereja maka makin tinggi juga level spiritualitasnya.

Salah satu hasil survei yang menarik adalah, jika dilakukan perbandingan “apple to apple” antara hasil survei BRC untuk umat kristen Indonesia, dibandingkan dengan hasil survei umat kristen GPIB Mupel Banten, adalah beberapa hal yang patut disimak :

  1. Dari aspek Basic Belief (Dasar-Dasar Kepercayaan kepada Tuhan), kemudian aspek Exclusivity (merasa memiliki eksklusivitas atau keunikan sebagai orang kristen), juga aspek Experience (pengalaman hidup sebagai umat kristen) dan aspek Meaning (memaknai kekristenan dalam pola hidup), secara umum untuk ke-empat aspek ini, rata-rata umat GPIB Mupel Banten mendapatkan angka hasil survei yang lebih rendah dibandingkan umat kristen Indonesia.
  2. Untuk aspek External Practice (praktek kekristenan secara komunal, seperti rajin beribadah, rajin ikut kegiatan-kegiatan kristiani) dan juga aspek Personal Practice (rajin membaca Alkitab secara pribadi, rajin membaca renungan harian) maka nilai survei GPIB Mupel Banten lebih tinggi dari umat kristen Indonesia.
  3. Hal ini patut menjadi perhatian serius untuk dianalisa dengan lebih mendalam. Umat GPIB Mupel Banten yang notabene lebih rajin beribadah dan lebih rajin membaca Alkitab serta renungan setiap hari, namun kenyataannya memiliki dasar tingkat keimanan yang lebih rendah, serta kurang memiliki pengalaman-pengalaman hidup beriman dan juga lemah dalam pemaknaan diri sebagai orang kristen. Patut dianalisa dan diteliti lagi dengan lebih mendalam, mengapa bisa terjadi?. Umat rajin beribadah dan rajin baca Alkitab setiap hari, namun mengapa pemahaman imannya rendah dan juga pemaknaan hidupnya sebagai orang kristen juga lemah.

Sebagai penutup, dalam wawancara, Gelly Nisahpih menyatakan rasa syukurnya pada Tuhan, bahwa riset survei ini dapat berjalan dengan baik, dan menghasilkan analisa-analisa yang baik. Kiranya hasil ini dapat menjadi pemicu buat jemaat-jemaat lain dan Mupel-Mupel yang lain untuk juga mau melakukan riset-riset serupa, untuk mengukur diri dan melihat serta mengevaluasi diri, apakah pelayanan yang dilakukan selama ini sudah menghasilkan buah-buah yang baik, atau, mungkin ada banyak hal yang harus dibenahi lagi dan diperbaiki.

Dari hasil survei, dapat dilihat, aspek-aspek mana yang masih rendah, haruslah dibuat program-program perbaikannya oleh gereja. Semoga dengan program-program perbaikan gereja, maka pada survei berikut bisa mendapatkan hasil yang lebih baik. Tuhan memberkati. ***

Share :

Baca Juga

GPIB Siana

Kepempimpinan Gereja dan Bagaimana Bila Ada Konflik, Ini Pesan Motivator Paulus Winarto

Misioner

GEREJA Di Era Metaverse, Ini yang Mesti Dilakukan Gereja

Misioner

Dari Ratji Rendakasiang untuk GPIB: Pendeta Itu Harus Sejahtera

Misioner

Hentikan Menebar Kedengkian dan Kebencian, Pdt. P.K Rumambi: Mari Koreksi Diri dan Bertobat

GPIB Siana

Forum Pembinaan Madya Pendeta, Dr. Budhy Munawar: Pemerintah Ambigu Tangani Intoleransi

Germasa

Majelis Sinode Tuntaskan Audiensi Di Lemhannas, Katedral Jakarta dan Ditjen Bimas Kristen

Misioner

GPIB Kharis DKI Renovasi Gedung Gereja dan Bangun Kantor Majelis Jemaat

Misioner

LAI Siap Luncurkan Alkitab TB2: Sesuaikan Dengan Kebenaran Bahasa Terkini