Home / Perspektif

Senin, 13 Juni 2022 - 16:02 WIB

Ilmu Muncul Dari Pengalaman, ”Ibu” Semua Pengetahuan

Oleh: Dr. Wahyu Lay, GPIB Cipeucang, Dosen Filsafat

ANDRINO lahir di sebuah desa bernama Riwu. Ia hidup bagaikan dalam sebuah miniatur alam tropis. Disekitarnya mengalir dua sungai yang penuh udang dan ikan.

Kampungnya dikeliling tiga gunung yang dibalut hutan tropis. Sepuluh meter dari rumahnya terdapat kebun kopi. Satu kilometer dari rumahnya terhampar sawah. Ia tidak perlu ke toko membeli gula, karena disana-sini terdapat hutan aren penghasil gula merah.

Dibeberapa tempat terdapat padang sabana dimana ia bisa menggembalakan kerbau sambil meniup seruling.

Bila ia mau ia dapat duduk diatas batu besar ditengah padang menikmati matahari terbenam. Ia merasa seperti dilemparkan di negeri penuh puisi dan romantisme

Makhluk Mendunia

Manusia tidak pernah menentukan tempat kelahirannya. Ia bisa lahir di negeri seribu mimpi, atau di tanah gersang penuh fatamorgana di siang hari. Ia hidup dalam kesatuan dengan dunia sekitarnya. Fakta yang tidak dapat ditolak ialah bahwa ia dilahirkan di atas muka bumi.

Ia dikitari oleh alam: alam inorganik, alam tumbuhan, alam hewani dan alam manusia. Ia terlempar dan diterima dalam pangkuan ibu pertiwi atau pangkuan alam. Ini kita sebut pengalaman, bersatu dengan alam sekitarnya.

Manusia selalu mendunia dan bersama dunia, kata Heidegger (Mitweltsein). Saya bertemu dengan yang lain selalu dan dimana-mana: di kantor, di tempat ibadat, di kamar kecil, karena yang lain itu dapat berupa orang, kursi, keran air, bangku.

Bila saya sendirian, saya juga mengalami tanganku, kakiku, kepalaku sebagai yang lain dari diriku yang berperan sebagai subjek. Dalam pertemuan itu dunia tidak melebur dalam diri saya dan saya tidak melebur dalam dunia. Kesatuan mutlak dengan dunia tanpa ada perbedaan lagi, tidak mungkin terjadi. Pohon yang ku temui tetap pohon dan saya tidak mungkin melebur menjadi pohon.

Tetapi saya tidak dapat mengatakan bahwa pohon itu tidak mempunyai hubungan dengan saya. Dengan mengatakan bahwa saya tahu pohon itu sebagai pohon mangga, sudah menunjukkan adanya hubungan.

Marsella mencintai Lundianto, bagaimanapun cinta mereka, Marsella, tetap Marsella dan Ludianto tetap Ludianto. Tetapi mereka tdak dapat menyangkal hubungan itu karena mereka sudah berjanji satu dalam susah dan senang, bersama-sama sampai mati. Mereka sadar akan hubungan itu.

Kesadaran dalam arti luas mempersatukan subjek dan objek. Kesadaran membentuk pengalaman. Hanya manusia yang mampu mengalami alam sekitarnya.

Baca juga  Yang Muda Yang Menjadi Teladan

Pengalaman tidak lain, mempunyai hubungan dengan yang lain lewat kesadaran, tetapi tetap ada jarak antara yang satu dengan yang lain lewat kesadaran, tetapi tetap ada jarak antara yang satu dengan yang lain. Saya tidak mungkin mengatakan saya tahun di dunia antah berantah.

Dalam dunia filsafat terdapat perdebatan: pengalaman itu suatu persatuan total atau pemisahan yang radikal antara subjek dan objek. Bila kita menerima pengalaman sebagai pertemuan seperti yang dikatakan oleh Ian thomas Ramsey dualisme mutlak dan monisme total tidak mungkin diterima dalam memahami pengalaman.

Dua segi Pengalaman

Pengalaman sebagai pertemuan mempunyai dua segi: segi konatif dan segi kognitif, segi yang hanya dirasakan dan tak terungkap dan segi yang dipahami dan segi yang disadari, dapat diungkapkan dalam bahasa.

Kedua segi ini dapat dikatakan: pengalaman diam dan pengalaman dalam wicara. Pengalaman adalah sebuah pertemuan, persatuan saya sebagai subjek dengan dunia sekitar saya. Pertemuan itu dapat dirumuskan dengan banyak cara.

Saya melihat sungai mengalir, gunung hijau, menikmati manisnya gula merah, merasakan kerasnya batu besar, terlena oleh sejuknya angin sepoi-sepoi di padang sabana di kala matahari terik.

Dua segi ini menunjukkan dua tingkat dalam pengalaman: tingkat prarefleksif atau praabstraksi dan tingkat refleksi atau abstraksi. Tingkat pertama merupakan ibu dari pengalaman tingkat kedua. Orang dapat mengatakan kalau ia mengalami sebelumnya.

Orang tidak mungkin mengatakan itu pohon (ungkapan ini hasil abstraksi), kalau ia tidak mengalami ada sesuatu yang lain dari dia. Orang tidak mungkin mengatakan itu manusia yang bernama Endang, kalau ia sendiri tidak mengalami ada sesuatu yang lain dari dia.

Pengalaman Pribadi

Dua tingkat pengalaman itu sangat nampak dalam pengalaman yang bersifat pribadi. Tatapan mata Rianto begitu menyenangkan Endang. Ia sadar tutur katanya begitu menyentuh hati Rianto.

Mereka sama-sama merasakan, kalau jauh ingin bertemu, kalau dekat maunya bertengkar. Endang dan Rianto saling jatuh cinta. Tetapi keduanya tidak pernah mengatakannya. Semuanya penuh misteri. Kemisterian itu baru sirna pada suatu hari ketika mereka mengucapkan kata saling mencintai.

Pada saat itu hujan rintik-rintik, dan mata hari condong ke barat, di kampus yang hijau oleh pepohonan. Pengalaman yang pada awal mula diam, tidak dikatakan menjadi jelas oleh perkataan. Namun pengalaman cinta itu tidak dapat dikatakan secara tuntas. Tetap ada sesuatu yang sulit diungkapkan dan sesuatu yang tak terungkapkan itu tetap menyertai hidup dua insan Ratna dan Pardiono.

Baca juga  PEMIMPIN Itu untuk Melayani Bukan Dilayani

Pengalaman itu tidak hanya dapat diungkapkan dengan kalimat aku cinta padamu. Cinta itu terlalu kaya untuk dirumuskan dalam sebuah kalimat, terlalu dalam untuk dapat diangkat semuanya ke permukaaan. Karena itu dibutuhkan senyum, kecupan, pujian, tangisan, tawa ria.

Ibu dari Ilmu

Ilmu muncul dari pengalaman. Prof. Dr. Kusnodariato seorang ilmuwan kelas berat. Tetapi pekerjaannya setiap hari ialah menggali kubur tua.

Ia ahli dalam bidang kepurbakalaan. Ia mesti terjun dan bergaul dengan kenyataan alam sekitar sehingga ia dapat membuat rumusan baru, ia tidak mungkin membuat rumusan ilmiah yang dipertanggungjawabkan dari segi kepurbakalaan kalau ia hanya duduk di kamar.

Robertiano tidak dapat menyebut dirinya seorang ahli sosiologi, kalau ia mendasarkan tesisnya pada khalayan. Ia mesti ke Jawa Tengah atau ke tana Toraja. Ilmu pengetahuan merupakan salah satu bentuk dari refleksi pengalaman, lahir dari pengalaman.

Tidak menjadi soal apakah hal itu merupakan pengalaman sendiri atau pengalaman yang diwariskan orang lain. Ilmu pengetahuan memperjelas dan mempertajam pengalaman kita, tetapi sekaligus terbatas. Orang tidak mungkin dapat mengungkapkan perasaannya waktu meneropong bintang.

Galileo-Galilei menegaskan pentingnya observasi dalam setiap usaha ilmiah, tetapi ketika ia meneropong bintang di langit biru, ia tidak dapat merumuskannya secara tuntas dalam ungkapan ilmiah. Seperti kalimat aku cinta padamu yang diucapkan Isabella pada Wiwinano, tidak mungkin mengungkapkan kedalaman cinta antara mereka.

Demikian dalam ilmu pengetahuan, keinginan seorang ilmuwan ingin mengungkapkan secara tuntas pengalamannya tetapi ia mesti tahan frustasi, karena hal itu tidak mungkin. Pengalaman bagaikan ibu yang melahirkan banyak anak dan tidak pernah beranak tunggal.

Pengalaman tidak mungkin dapat dipadatkan pada suatu ilmu atau suatu rumusan. Pengalaman pada dasarnya ialah kehidupan kita sendiri, kaya dimensi, dan membutuhkan sejuta kata untuk mengatakannya.

Ilmu pengetahuan, filsafat dan teologi dengan aneka macam cabangnya, dalam keterbatasannya mengungkapkan kekayaan pengalaman, kedalaman kehidupan.

Pengalaman itu mesti diungkapkan kendatipun dengan gagap, dengan tidak sempurna. Jangan ditutup dengan gantang kata sang arif. Biarkanlah pengalaman itu berkembang seperti gaungnya sebuah gema.  ***

Share :

Baca Juga

Perspektif

Adakah Gerejamu Bertumbuh, Ketua Sinode GMIT Pdt Mery Kolimon: Dialog Dengan Agama Lain

Opini

Belajar Dari Sejarah

Perspektif

UGAHARI, Pendapatan Rp140 Miliar, Tapi Pakai Hp Jadul

Perspektif

Misteri Kematian, Kapan dan Bagaimana? Pdt. Frans J. Wantah Menjawab Itu

Perspektif

PEMIMPIN Jempolan Selalu Konstruktif

GPIB Siana

A M S A L

Perspektif

ARETE, Kepenuhan Fungsi Sebagai Manusia

Perspektif

Dimensi Vertikal