Home / Interdenominasi

Rabu, 10 Mei 2023 - 14:16 WIB

Pergumulan Gereja Di Pakistan, Rev. Romella Robinson: Ada Kekesaran dan Persekusi

Jurnalis Arcus GPIB Dennies J. Gaspersz mewawancarai Rev. Romella Robinson, Pendeta di Pakistan

Jurnalis Arcus GPIB Dennies J. Gaspersz mewawancarai Rev. Romella Robinson, Pendeta di Pakistan

Tantangan utama dari gereja-gereja saat ini adalah kurangnya transparansi, transformasi, dan kebersamaan Oikumenis dan manajemen yang baik

JAKARTA, Arcus GPIB – Konferensi Asian Church and Ecumenical Leaders Conference (ACELC) di Hotel Millenium Jakarta, 1 – 5 Mei 2023 banyak memberi masukan. Tak heran kalau setiap kali pertemuan anggota dari gereja-gereja Christian Conference of Asia (CCA) ini selalu dihadiri banyak delegasi peserta.

Fungsionaris Majelis Sinode di Event Asian Church and Ecumenical Leaders Conference (ACELC) di Hotel Millenium Jakarta.

Gereja-gereja di Asia dengan berbagai pergumulannya tentu menarik disimak. Karenanya, tim Majalah Arcus GPIB, Dennies Gasperzs menyempatkan menanyakan berbagai hal kepada Rev. Romella Robinson, pendeta Presbyterian Church of Pakistan, Anggota Komite Sentral World Council of Churchecs (WCC) dan Anggota Eksekutif National Council of Churches in Pakistan (NCCP).

Menurut Romella, ACELC yang dilaksanakan di Jakarta oleh Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dengan host GPIB memberikan banyak inspirasi dan sangat informatif.

“Saya pribadi sangat bangga dengan berbagai pembicara yang mewakili berbagai denominasi dan negara-negara di Asia, dan berbagi prespektif yang unik pada topik seperti Diakonia Oikumenis, kesaksian kenabian, Perdamaian dan Keadilan juga Kesatuan Gereja dan isu – isu serta masalah-masalah yang di hadapi gereja di Asia,” kata Romella.

Diakuinya, bahasan dalam ACELC menarik dan provokatif, ia merasa beruntung bisa ambil bagian dalam acara yang sangat berarti dan memperkaya wacana.

“Saya yakin konferensi seperti ini berpotensi menjadi katalis yang kuat untuk perubahan dalam gereja2 di Asia dan Gerakan Ouikumene lebih luas lagi, dan saya berharap dapat melihat hasil dari pengaruh pertemuan ini dimasa dating,” tutur perempuan yang selalu tampil dengan busana etnik Pakistan ini.

Menjawab pertanyaan persoalan gereja pada umumnya, Romalla  mengatakan, tantangan utama dari gereja-gereja saat ini adalah kurangnya, transparansi, transformasi, dan kebersamaan Oikumenis dan manajemen yang baik.

“Saya yakin tantangan utama dari gereja-gereja saat ini adalah kurangnya, transparansi, transformasi, dan kebersamaan Oikumenis. Kurangnya pengertian tentang kesaksian Kenabian dan Managemen yang baik,” katanya.

Baca juga  Generasi Muda Jangan Abai, Toleransi Perlu Terus Dijaga

Terlebih dari itu gereja-gereja cenderung lebih memprioritaskan mempersatukan sumber gereja dari pada Tugas Pelayanan yang utama yaitu melayani Gereja dan Jemaatnya secara harmonis dan adil, bukan hanya manusianya tetapi semua ciptaan Allah.

Soal kekerasan terhadap perempuan di Pakistan, Romella mengajak semua pihak untuk terus mengkampanyekan anti kekerasan terhadap perempuan.

Menurutnya, isu pelanggaran hak-hak wanita dan kekerasan sangatlah penting untuk dikampanyekan di Pakistan dan seluruh dunia. Wanita masih sering menjadi korban kekerasan, diskriminasi dan ditelantarkan dibanyak bagian dunia.

Di Pakistan khususnya, kekerasan dan penindasan hak-hak wanita saat ini sedang meningkat yang paling menonjol adalah kekerasan dalam rumah tangga, pembunuhan secara keji, dan serangan dengan menggunakan Asam. Ini hal-hal menakutkan yang terjadi dan harus di hentikan.

Perjuangan persamaan hak antara Pria dan Wanita, perlindungan hak-hak wanita harus menjadi prioritas baik di Pakistan dan di seluruh dunia. Pemerintah, LSM, dan Organisasi International harus bekerja sama untuk memastikan wanita diperlakukan dengan hormat dan sopan dan juga diberikan kesempatan yang sama seperti pria.  Jika itu tercapai maka dunia akan menuju masa depan yang penuh dengan keadilan.

Kehidupan Kekristenen secara umum di Pakistan, kata Romella, banyak mendapat tantangan. Agama Kristen di Pakistan adalah agama minoritas, kurang dari 2% dari penduduk Pakistan.

“Orang Kristen di Pakistan  mendapat banyak tantangan karena Iman percayanya mulai dari diskriminasi, kekerasan dan persekusi,” ungkap Romella.

Ancaman terbesar bagi Orang Kristen di Pakistan itu kaum Militan ekstrimis, yang selama ini telah melakukan tindakan-tindakan seperti serangan ke gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya. Orang Kristen di Pakistan juga mendapat diskriminasi ditempat-tempat pekerjaan, pendidikan dan akses public. Bukti khususnya di bidang Kesehatan dan Pendidikan, seringkali orang Kristen tidak diberikan akses untuk hal-hal tersebut.

Secara Umum, kata Romella, orang Kristen di Pakistan tidak diperhatikan, dan tidak adanya keterwakilan Orang Kristen di Lingkungan Umum di Pakistan.

Baca juga  Pdt. Margie De Wanna Pandu Bedah Buku Karya Pdt. Victor Rembeth

Pendeta Romella juga memiliki kepedulian terhadap konflik Rusia dan Ukraina. Menurutnya, perang Rusia dan Ukraina adalah bencana yang mendatangkan kehancuran.

“Saya yakin sekali bahwa konflik ini (Rusia-Ukraina) murni isu politik dan bukan yang lain. Ini sebuah bencana yang hanya akan mendatangkan kehancuran dan kelangkaan di kedua negara dan dunia secara umum,” tandasnya.

Tindakan-tindakan kedua pemimpin negara membawa mereka ke ujung jurang kehancuran, dan ini mengganggu rencana Tuhan untuk Persatuan dan Perdamaian. Kedua pemimpin menjadi sumber dari beda pandangan, perpecahan, kehancuran dan kebencian ke dalam kehidupan manusia.

“Kita di berikan satu Dunia, satu kemanusiaan, dan satu gereja oleh Tuhan, tapi kita justru menghancurkan pemberian mulia ini dengan tangan kita,” harap Romello.

Jadi, katanya, sangatlah penting Rusia dan Ukraina menghentikan kekerasan ini dan mulai berjalan untuk saling mengasihi, memaafkan dan memulihkan. Semua itu tidak saja untuk kepentingan mereka sendiri tetapi juga untuk kepentingan dunia secara keseluruhan.

Sebagai pendeta di Pakistan Romella mengakui, tantangan selalu ada dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba Tuhan.

“Kasih Tuhan memberikan saya kecukupan dalam saya menjalani melewati tantangan kehidupan dan kemudahan dalam mengatasi beban kehidupan. Iman Percaya saya adalah awal pekerjaan Tuhan dalam kehidupan saya dan saya harus selalu mengucap syukur untuk setiap rencana Tuhan untuk dunia dan kehidupan saya,” tuturnya

Mengaku sangat tertarik dengan model pelayanan Diakonia Oikumenis.  “Ketika saya masih anak-anak dan remaja, ketika saya memberikan diri saya untuk pelayanan ketertarikan saya yang utama adalah untuk lebih mengerti dan memahami Diakonia Oikumenis, dan Kebersamaan antar umat beragama,” tandas Romella.

Melalui Diakonia Oikumenis bisa saling menghargai dan mengembangkan hubungan Diakonis. Saat ini, Romella aktif dalam The Bossey Institute’s Online Course studi mengenai oikumene. “Together towards Unity; Being Church in a Fragmented World 2023” melalui kegiatan ini ia berjuang, berkontribusi pada keamanan dan keadilan di dunia. ***

Share :

Baca Juga

Interdenominasi

PGI Minta Semua Pihak Bijaksana Menyampaikan Pandangan Agama Di Ruang Publik

Interdenominasi

ACELC Resmi Dibuka Diiringi Musik Keroncong

Interdenominasi

Pesan Paskah PGI: “Berharap Dinamika Sosial-Politis Tidak Mengorbankan Keutuhan Bangsa”

Interdenominasi

Atasi Kemiskinan, Rev. A. Joshuva Peter: Diakonia Ekumenis dan Kemitraan Multisektoral Cocok untuk Asia

Germasa

Sidang Sinode BNKP, Menkumham Yasonna:  Peluang untuk Terus Berbenah dan Berinovasi

Interdenominasi

Peluncuran Platform Digital KBB: Dari Soal Penodaan Agama Hingga Diskriminasi

Interdenominasi

Konferensi ACELC Di Jakarta, Sekjen CCA Chunakara, Bangga Terhadap GPIB

Interdenominasi

Dari Konferensi ACELC, Kepemimpinan Bukan Kekuasaan, Pakai Gaya Kristus