Home / Interdenominasi

Kamis, 11 Mei 2023 - 11:41 WIB

Untuk Pelayan Tuhan Di Pelosok, Pdt. Arthur J. Rompis: Tetaplah Semangat Melayani

Kiri, Pdt. Arthur Julian Rompis bersama warga jemaat di Bengkulu Utara.

Kiri, Pdt. Arthur Julian Rompis bersama warga jemaat di Bengkulu Utara.

BENGKULU, Arcus GPIB – Gemerlap kota Bengkulu tidak segemerlap lokasi pelayanan di mana ia ditempatkan sebagai hambaNya untuk melayani Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS) Girimulya, Bengkulu Utara.

Jauh dari keramaian, so pasti sangat dirasakan menjalani  ritme berjemaat disana. Hari-hari pelayanan dijalaninya bersama seorang istri Veronika Madatu dan anak 3 Hazel, Hannah dan Hamasiah serta jemaatnya di  GKSBS Girimulya, Bengkulu Utara. Dia adalah Pendeta Arthur Julian Rompis, S.Si, Teol.

Tim liputan Tommy Mukdani dari Hesed Entertainment dan Frans S. Pong dari majalah Arcus GPIB bersama Pdt. Arthur Julian Rompis.

Kepada majalah Arcus GPIB dan Hesed Entertainment saat berada di kota Bengkulu pada 5 – 7 Mei 2023 Pendeta Arthur Julian Rompis, alumnus UKDW Yogyakarta ini mengisahkan pelayanan  di pedalaman Bengkulu Utara.

“Saya berasal dari GPIB Immanuel Tarakan. Lahir, besar di GPIB. Ayah saya Joseph Rompis, dia seorang mantan pelaut katholik yang memilih menjadi protestan,” tuturnya.

Pdt. Arthur Julian Rompis bersama warga jemaat di GKSBS Girimulya, Bengkulu Utara.

Ayahnya pernah beberapa waktu lamanya menjadi presbiter di GPIB dan Ibunya Adolfina Antoinette Bate (Almh), seorang ibu yang banyak memberikan inspirasi baginya.

Mengapa memilih menjadi pendeta?  Suatu sore, kata Arthur, ketika sedang duduk santai, tiba-tiba dari dorongan hatinya muncul keinginan untuk melanjutkan studi teologi. Jadi sebelumnya ia juga sedang studi Bahasa Asing dan bekerja sebagai anggota kepolisian dari kesatuan Kehutanan.

Baca juga  Peluncuran Platform Digital KBB: Dari Soal Penodaan Agama Hingga Diskriminasi

Niat sekolah teologi itupun disampaikan kepada sang Ayah dan ibu. “Mak, Pak, Arthur harus sekolah Pendeta !! sontak saja mereka kaget pada waktu itu.”

“Ibu saya langsung mendukung niatan saya itu, tetapi ayah saya tidak bergeming sedikitpun, karena pikirnya mengapa harus mulai lagi dari nol, toh semua sudah siap, sudah cukup mapan, dan tinggal berkeluarga.”

“Saya sempat “didiamkan” selama kurang lebih satu minggu, sampai akhirnya ayah saya berkata: “Kalau setengah-setengah, lebih tidak usah…tetapi kalau itu memang sudah menjadi tekad you, pergilah..” Begitu katanya.

“Akhirnya, saya pun pamit untuk melanjutkan studi di UKDW Yogyakarta.”

Dari kota Bengkulu, untuk sampai di GKSBS Girimulya, Bengkulu Utara, jemaat dimana ia ditempatkan harus menempuh  3 jam perjalanan.

“Suka-duka selama melayani, dukanya ketika saya harus berjauhan dengan keluarga karena harus melayani ke wilayah yang jarak tempuhnya berjam-jam dan dengan medan yang cukup berat, tanah liat berlumpur, dan di saat yang sama, anak-anak pada sakit.”

“Kadang saya masih bergumul dengan itu. Tetapi saya percayakan sepenuhnya kepada DIA yang telah memanggil kami untuk melayani, maka DIA juga yang akan menjaga kami tetap “sepaket.”

Baca juga  Andi Widjajanto: Feminis Terasa Di Gereja, Romo Paschalis: Misi Gereja Harus Ke Dunia Bukan Ke Surga

“Sukanya, adalah ketika saya bisa menikmati pemandangan alam Sumatera yang masih asri, meskipun di beberapa titik hanya tampak luarnya saja, sementara di bagian dalamnya gundul karena sudah ditanami sawit.”

“Satu sisi, saya senang bisa melayani sembari menikmati pemandangan, tetapi di sisi lain cukup miris karena kawasan hutan yang banyak dirambah untuk perkebunan sawit. Melalui pelayanan ini, saya terus menyuarakan akan pentingnya menjaga alam agar tetap lestari.”

Tahun Politik

Memasuki tahun politik 2024 ini, Pendeta Arthur punya pandangan sendiri berkaitan dengan isu-isu intoleransi dan politik identitas.

“Bagi saya pribadi, penting bagi kita semua untuk menyadari bahwasanya sebagai mahluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain di sekitar kita, apalagi mereka yang berbeda keyakinan dengan kita.”

“Maka dalam kerangka berpikir ini, sebagai gereja kita perlu mengembangkan kepekaan kita terhadap hubungan yang terbuka dan harmonis dengan siapa saja.”

“Pendekatan-pendekatan kita terhadap sekitar, hendaknya tidak perlu mengusung nama gereja atau agama kita, karena ketika kita bisa hidup berdampingan dengan baik, yang dibutuhkan adalah saling percaya satu sama lain dan bukan melulu indentitas.”

“Kalau mau buat pagar gereja, mulailah dari “pagar piring”, karena hanya dengan kedekatan itulah kita bisa saling berbagi berkat, sukacita, dan keramahatamahan sebagai sesama umat Tuhan.”

Untuk para pelayan Tuhan yang berjuang di pelosok, Pendeta Arthur berpesan: “Tetap semangat melayani DIA dengan semua talenta kita, Tuhan Yesus memberkati.” /fsp

 

Share :

Baca Juga

Interdenominasi

Tarian Ma’gellu Di Acara Natal KKTB: Bangkitkan Kecintaan Kampung Halaman

Interdenominasi

Jelang 160 Tahun HKBP: Bah,…Punya Gereja Di Kuala Lumpur dan Amerika

Interdenominasi

“Wujudkan Isi Doa-doa Kita Kepada Tindakan Nyata, Ubah Kata-kata Menjadi Tindakan”

Interdenominasi

Peserta Konferensi ACELC Berkunjung Ke Kantor PGI Jakarta

Germasa

Sidang Sinode BNKP, Menkumham Yasonna:  Peluang untuk Terus Berbenah dan Berinovasi

Interdenominasi

Umat Kristiani Di Yogyakarta Rayakan Pekan Doa Sedunia Di Gereja HKBP

Interdenominasi

Sekjen HKBP Victor Tinambunan Menutup PST GPIB: Tempatkan Persoalanmu Pada Kristus

Interdenominasi

Sekum GKSI Pdt. Bayu Priadi Kusumo Bangga Dengan Pelayanan Media Digital GPIB