Home / Germasa

Senin, 21 Agustus 2023 - 23:07 WIB

Dari Konferdal Germasa GPIB, Indonesia Multikultural, LDII: Itu Sunnahtulloh

SINGKAWANG, Arcus GPIB – Konferensi Sinodal (Konferdal) Germasa GPIB 2023 di Singkawang merajut kerukunan beragama dengan mengadakan temu cendekiawan agama Kristen, Hindu, Buddha, Islam, dan Konghuchu. Pertemuan digelar di Vihara Vimala Chandra Arama, Singkawang, Kalbar, Senin (21/08/2023).

Fungsionaris Majelis Sinode di Vihara Vimala Chandra Arama: Jalin Komunikasi Lintas Iman.

Para cendekiawan itu adalah Pendeta Jimmy Sormin, M.A dari PGI, Bhante Tithanyano dari Buddhis, Ida Sri Bandem dari PHDI Kalbar, Sutadi, S.H. dari Matakin Kalbar, dan Prof. Dr. H. Singgih Tri Sulistiyono dari LDII.

Tersimpul dari pertemuan lima tokoh agama yang dipandu Pendeta Rully Haryanto bahwa kerukunan beragama harus terus dirawat dengan komunikasi yang baik, melakukan silaturahim dan pertemuan-pertemuan lintas iman untuk mengatasi krisis kepercayaan.

Prof. Dr. H. Singgih Tri Sulistiyono dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengatakan, keberagaman dalam perbedaan itu kehendak Allah yang perlu dijiwai dengan rasa persatuan untuk mendatangkan kejayaan bangsa dan negara.

Baca juga  Seminar Agama-agama Ke-36 Akan Deklarasikan Merawat dan Mengelola Keberagaman

Di LDII dan umat Islam pada umumnya, kata Singgih, pihaknya selalu menekankan bahwa keberagaman itu kehendak Tuhan.

“Kepada warga LDII dan warga umat Islam pada umumnya kami selalu membangkitkan kesadaran bahwa Tuhan menciptakan beranekaragam. Kepercayaan Islam Allah menciptakan manusia itu berjenis-jenis, beranekaragam dengan tujuan adalah supaya saling kenal mengenal,” kata Prof. Singgih.

Menurut Singgih, bangsa Indonesia ini bagian dari sunnahtolloh atau hukum Allah. Artinya bangsa Indonesia ini bangsa yang beragam yang multikultural ini bagian dari sunnahtulloh yang tidak bisa diingkari.

Pendeta Jimmy Sormin dalam kesempatan itu mengatakan, relasi keseharian memiliki imunitas menghadapi gerakan-gerakan konservatif atau gerakan-gerakan fundamentalis yang mendorong terjadinya perpecahan di masyarakat.

Baca juga  KUA Jadi Tempat Nikah Semua Agama, Perlu Diatur

“Kalau ada imunitas itu, tidak terjadi konflik yang lebih besar. Artinya, seluruh gereja memahami bahwa kita berada di negeri ini dengan populasi muslim terbesar di dunia dengan agama-agama yang banyak,” ujar Pendeta Jimmy.

Dikatakan, kalau zaman Soehato bicara agama atau mempertemukan tokoh-tokoh agama dilarang untuk saat ini disarankan perlunya diskusi-diskusi keseharian terus didorong.

Bhante Tithanyano mengatakan, soal krisis antar iman dikalangan umat Buddha krisisnya bukan hanya antar iman saja. Tapi inter iman itu sendiri.

“Karena kita tahu bahwa ada agama Buddha sendiri terdiri dari banyak sekte. Seringkali antar sekte bisa terjadi krisis juga,” tandas Tithanyano.

Dikatakan, kominikasi antar umat, komunikasi antar pemimpin, dialog, menjalin tali silaturahim sesama umat yang lain dengan keyakinan yang lain sangat penting./ fsp

Share :

Baca Juga

Germasa

Manuver Elok Alumnus UIN Sunankalijaga Pdt Rully Haryanto, Dari Lele, Gusdurian Hingga Bamag

Germasa

Dari Acara Dialog Karya Kebangsaan: Pdt. Rully Haryanto: Menjalin Relasi, Menangkal Radikalisme

Germasa

Ketahanan Pangan, Ini Arahan Irjen Kementan Jan Maringka Di Konferdal Singkawang

Germasa

GMKI Dapat Pembinaan Cegah Tangkal Radikalisme Dari Mabes TNI

Germasa

Mahkamah Agung Melarang Hakim Pengadilan Mengabulkan Perkawinan Beda Agama

Germasa

PGI Belum Tentukan Sikap Terkait Pencatatan Nikah di KUA

Germasa

Mereka Tentang Kristen Progresif: “Ini Bukan Barang Baru”

Germasa

Walikota Jaksel dan Forkopimdo Hadir Di Malam Natal GPIB Pasar Minggu