Home / Germasa

Rabu, 1 Februari 2023 - 20:12 WIB

Kisruh Di GMKI, GPIB Tempuh Jalur Hukum, Ada Pencemaran Nama Baik 

Dari kiri: Sekretaris I Majelis Sinode Pendeta Roberto J. M. Wagey, M.Th., Pendeta Manuel E. Raitung, S.Si, M.M., dan Sekretaris II Penatua Ivan G. Lantu, S.H, M.Kn saat memberikan tanggapan soal pencemaran nama baik Ketua Umum Pdt. Paulus K. Rumambi, M.Si.

Dari kiri: Sekretaris I Majelis Sinode Pendeta Roberto J. M. Wagey, M.Th., Pendeta Manuel E. Raitung, S.Si, M.M., dan Sekretaris II Penatua Ivan G. Lantu, S.H, M.Kn saat memberikan tanggapan soal pencemaran nama baik Ketua Umum Pdt. Paulus K. Rumambi, M.Si.

 JAKARTA, Arcus GPIB – Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) menolak keras pernyataan bahwa GPIB terlibat dalam persoalan internal Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Sebagaimana diketahui santer diberitakan bahwa GPIB menjadi pemecahbelah kisruh di internal GMKI yang disebut-sebut mendukung salah satu kelompok di internal GMKI menyangkut pelantikan pengurus baru di GMKI yang kini memiliki dua kepengurusan.

Berita itu dipertegas dengan munculnya poster digital yang bertuliskan Wanted dengan foto Ketua Umum Majelis Sinode GPIB Pendeta Drs. Paulus K. Rumambi, M.Si yang menyebar luas di media sosial.

Menyikapi hal tersebut, Fungsionaris Majelis Sinode GPIB Rabu (01/02) angkat suara yang disampaikan Ketua II Majelis Sinode GPIB Pendeta Manuel E. Raitung, S.Si, M.M., Sekretaris I Pendeta Roberto J. M. Wagey, M.Th., dan Sekretaris II Penatua Ivan G. Lantu, S.H, M.Kn.

“Ini bukan masalah GPIB, ini masalah GMKI. Ini merupakan pemutarbalikan fakta dan merugikan nama baik bagi GPIB. Kami berdasarkan Keputusan Sidang Majelis Sinode, ini mengganggu dan ada Undang-undang yang dilanggar. Kita minta supaya diproses hukum,” tandas  Pendeta Manuel.

Untuk itu, kata Manuel, pihaknya sudah membentuk Tim Hukum melalui Yayasan Hukum untuk memproses ini.  Apalagi, katanya, Ketua Umum Majelis Sinode GPIB digambarkan sebagai Wanted dalam sebuah poster digital.

Baca juga  Filipina Terbuka Dengan Keislaman, Berguru Ke Indonesia Siap Bangun Madrasah Negeri

Kronologi munculnya berita-berita yang mencitrakan Ketua Umum Majelis Sinode Pendeta Paulus Rumambi sebagai pemecah belah diawali kisruh di internal GMKI. Akibat kisruh itu terbentuk dua kubu yakni kubu Ketua Umum GMKI dan kubu Sekretaris Umum di GMKI.

Kubu Sekretaris Umum sudah melakukan pelantikan pengusus terpilih di GKI Kwitang Jakarta pada 28 Januari  2023. Dan kubu Ketua Umum akan melakukan pelantikan pada 31 Januari 2023 di GPIB Paulus Jakarta.

Untuk itulah, kubu Ketua Umum mengajukan permohonan melakukan pelantikan di GPIB  Paulus Jakarta dan ditolak karena adanya surat yang masuk bahwa kepengurusan hasil formatur sudah dilantik di GKI Kwitang.

Atas dasar Surat itulah GPIB Paulus menolak untuk gedung gerejanya dipakai sebagai tempat pelantikan pengurus GMKI versi Ketua Umum. Dari sinilah penolakan GPIB Paulus dianalogikan bahwa Pendeta Rumambi sebagai pemecahbelah karena tidak menyetujui pelantikan pengurus GMKI versi Ketua Umum.

“Ini bukan masalah GPIB, ini masalah GMKI,” kata Manuel didampingi mitranya Pendeta Roberto Wagey dan Penatua Ivan Lantu.

Sekretaris I MS Pendeta Roberto mengatakan, GPIB tidak tahu menahu tentang persolan ini. Sehingga agak mengejutkan ketika membaca postingan yang menyudutkan Ketua Umum Majelis sinode GPIB.

“Yang pasti ada tiga hal disini telah terjadi pencemaran nama baik Ketua Sinode GPIB, pencemaran nama baik lembaga GPIB, dan juga pencemaran nama baik GPIB Paulus,” kata Roberto.

Baca juga  Menteri Agama Ingin Undang Paus Fransiskus, Lihat Indahnya Keberagaman di Indonesia

Dikatakan, permintaan maaf yang dilayangkan GMKI tetap diterima tapi proses hukum akan tetap berlangsung.

“Harapan kami bahwa GMKI yang berlebelkan Kristen ini membangun satu suasana yang kondusif sehati, sepikir, satu tujuan diharapkan utu tidak terjadi perpecahan tapi menjadi teladan yang baik bagi banyak orang,” imbuh Roberto.

Atas pernyataan-pernyataan miring lewat poster digital yang menyatakan Ketum Rumambi sebagai wanted, Sekretaris II MS Penatua Ivan Lantu tegas mengatakan, pihaknya sangat terganggu atas beredarnya poster tersebut.

“Ini kayak petir di siang bolong, kita merasa terganggu, terusik ketika pimpinan kami dimasukkan katakanlah difitnah di grup media social sebagai wanted,” kata Ivan.

Pria Strata-2 Hukum profesi Notaris ini menyayangkan fitnah tersebut dilayangkan oleh mereka yang berstatus mahasiswa. Dikatakan, karena ini sudah masuk ke ranah hukum karenanya proses hukum akan terus dilakukan.

“Ini sebagai pembelajaran, janganlah tangan itu gatal, janganlah pikiran itu mencoba membuat sesuatu yang tidak benar,” tandas Ivan. “Inilah yang kami proses, kami laporkan ini, kami juga sudah berkonsultasi dengan bagian hukum kami,” imbuhnya. /fsp

Share :

Baca Juga

Germasa

Menag Lantik Tiga Pimpinan PTKN, Dari PTKN Kristen Dr. Fredrik Warwer, M.Th

Germasa

Jangan Hanya Deklarasi, Wamenag Harap AICIS Lakukan Aksi Nyata bagi Perdamaian

Germasa

Yaqut Cholil Qoumas Ajak Dai Bumikan Gerakan Moderasi Beragama Sebagai Spirit Penguatan Bangsa

Germasa

Produksi Konten-konten Keagamaan Agar Dipahami dengan Tepat oleh Generasi Z

Germasa

Candi Prambanan Sudah Bisa Menjadi Tempat Ibadah Massal Umat Hindu

Germasa

Umat Akan Senang Bila Chattra di Candi Borobudur Terpasang Kembali

Germasa

Staf Khusus BPIP Minta Umat Kristen Tidak Terjebak Polarisasi Politik

Germasa

Baleg DPR: Kita Upayakan RUU TPKS Sudah Bisa Disahkan Dalam Waktu Dekat