MALANG, Arcus GPIB – Peka merasakan hal-hal yang terjadi disekitarnya. Jeli melihat setiap persoalan yang timbul seraya memberikan solusi. Ia adalah Pendeta Jan Jona Lumanauw, KMJ GPIB Gideon Depok.
Tak heran setiap kali event akbar Persidangan Sinode yang digelar Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) ia selalu angkat bicara menyikapi kondisi di gereja yang tersebar di 26 provinsi ini. Pria yang akrab disapa Pendeta Jona ini kerap berbicara tegas dan keras memaparkan solusi.
Kepiawaiannya tak diragukan lagi mamainkan peran dimana pun ia melayani. Kini, ia dipercaya menata layan untuk sebuah event besar Bakti Sosial ke Medan Sumatra Utara. Ide dan sarannya selalu selalu menyemangati.
Saat melayani di ibadah Perjamuan Kudus Minggu 7/7/2024 di RAAL Griya Asih Lawang, dalam rangka HUT YADIA ke-30, lagi dan lagi Pendeta Jona banyak memberi pesan berarti begaimana seharusnya ”Memberi” yang berkenan kepada Tuhan.
Menurut Ketua Majelis Jemaat GPIB Gideon Depok yang aktif di Yayasan Diakonia dan Departemen Pelkes ini, seringkali orang yang memberi tapi dengan berbagai embel-embel, ada yang memberi karena ingin dilihat orang, ada yang memberi karena keinginan yang ingin dicapai.
Memberi yang benar, kata Pendeta Jona, harusnya diikuti dengan hati yang merasa ”kehilangan” dari apa yang diberi. Raja Daud memberi bukan hanya karena ia Raja, tapi ia memberi karena kesadaran yang tinggi. Ia ikut ambil bagian dari harta kekayaannya untuk persembahan Rumah Tuhan.
”Memberi kepada Tuhan itu memang harus ada rasa yang hilang dari kita. Kalau kita memberi kemudian tidak ada rasa hilang jangan pernah katakan itu persembahan,” tutur Pendeta Jona yang kini tengah menggalang dana pelayanan Baksos ke Medan, Sumatra Utara.
Dikatakan, memberi uang kepada orang-orang di tikungan dan macet saat berkendara ditempat-tempat tikungan dan macet dan melupakan dan tidak ada yang hilang itu bukan persembahan. ”Kepada Tuhan tidak boleh begitu,” tandasnya.
Dalam hal memberi, harap Pendeta Jona, Tuhan mau siapapaun ikut ambil bagian didalamnya dan tidak hanya mengharapkan orang yang itu-itu saja.
”Coba kita berkaca dalam Panitia-panitia yang kita lakukan, apakah Panitia Paskah, Panitia Natal, Panitia Pembangunan Gedung Gereja, Panitia Retreet, dan berbagai panitia-panitia yang ada.”
”Seringkali kita hanya mengharapkan si A, si B yang berpartisipasi, kita tidak pernah ikut ambil bagian tetapi kalau pestanya, kalau senang-senangnya kita ikut bangga. Padahal seharusnya setiap anggota Panitia harus berpartisipasi, ikut menanggung suatu kegiatan.” /fsp