Home / Perspektif

Kamis, 28 Oktober 2021 - 13:43 WIB

ARETE, Kepenuhan Fungsi Sebagai Manusia

Oleh: Dr. Wahyu Lay, GPIB Cipeucang, Bogor

Ini adalah istilah Yunani untuk kebajikan atau kebaikan suatu hal: apa yang menjadi keunggulan sesuatu. Menurut Sokrates:

  1. Arete berarti keutamaan yang terdapat pada seseorang. Seorang tukang sepatu, misalnya, menjadi tukang sepatu yang baik karena ia memiliki arete.

Seorang negarawan mempunyai hal itu yang memungkinkan dia menjadi seorang politikus yang baik. Kala itu kata arete belum mempunyai arti moral. Tetapi manusia tidak saja mempunyai arete sebagai tukang atau sebagai negarawan, ia juga mempunyainya sebagai manusia.

Ada arete yang membuat manusia seorang manusia yang baik. Bila Sokrates berbicara mengenai kata itu, maka yang pertama-tama ia maksudkan ialah arete yang menjadikan manusia, manusia yang baik.

  1. Salah satu pendirian Sokrates yang terkenal ialah bahwa “keutamaan (arete) adalah pengetahuan”. Pendirian ini mudah dapat dimengerti apabila kita ingat bahwa kata itu mempunyai latar belakang lebih luas daripada arti moral saja.

Arete seorang tukang sepatu membuat dia menjadi seorang tukang sepatu yang baik dan arete itu pasti mengandung juga pengetahuan. Karena seorang tukang sepatu harus mengetahui apakah itu sebuah sepatu dan untuk apa sepatu itu dipakai. Tidak mungkin dia menjadi seorang tukang yang baik, kalau dia tidak mempunyai pengetahuan serupa itu. Demikian pula keutaman yang membuat manusia menjadi seorang manusia yang baik, harus dianggap sebagai pengetahuan.

Seorang yang mempunyai keutaman sudah tahu apakah yang baik dan hidup tidak baik berarti lain daripada mempraktekkan pengetahuan itu.

  1. Dari pendiriannya bahwa keutamaan merupakan pengetahuan, Sokrates menarik tiga kesimpulan. (a) Pertama-tama harus dikatakan bahwa manusia tidak berbuat salah dengan sengaja. Manusia membuat salah karena keliru atau ketidaktahuan. Seandainya ia tahu apa “yang baik” baginya, ia akan melakukannya pula. (b) Kesimpulan lain ialah bahwa keutamaan itu satu adanya.
Baca juga  A M S A L

Tidak mungkin bahwa seorang tertentu mempunyai keutamaan keberanian dan tidak mempunyai keutamaan lain, keadilan misalnya. Kalau seseorang tidak adil atau berkekurangan lain, bagi Sokrates sudah nyata bahwa orang itu tidak mempunyai keutamaan yang sungguh-sungguh. Keutamaan sebagai pengetahuan tentang “yang baik” tentu merupakan pengetahuan yang menyeluruh.

Mustahillah bahwa pengetahuan itu hanya terdapat dalam satu bidang saja, sementara dalam bidang lain tidak tampak (c) Kesimpulan ketiga ialah bahwa keutamaan dapat diajarkan kepada orang lain. Pengajaran itu tidak lain daripada menyampaikan pengetahuan kepada sesama.

Kalau keutamaan boleh disamakan dengan pengetahuan, maka harus diakui pula bahwa keutamaan dapat diajarkan. Akan tetapi dengan itu Sokrates tentu tidak bermaksud bahwa keutamaan dapat diajarkan dengan pelajaran-pelajaran khusus, melainkan bahwa ada kemungkinan untuk mengantar orang (dengan metode tanya jawab atau cara apa pun) kepada pengetahuan yang benar.

Bagi Sokrates, adanya pendidikan sudah membuktikan bahwa keutamaan tidak dapat diajarkan, pendidikan tidak mungkin dijalankan.

  1. Pendapat Sokrates bahwa keutamaan adalah pengetahuan, kadang-kadang dinamakan “intelektualisme etis”. Aristoteles membantah dengan tajam titik ajaran Sokrates ini.

Tetapi rupanya Aristoteles menguraikan pendapat Sokrates dengan agak berat sebelah, supaya kemudian kritiknya menjadi lebih gampang. Kalau kita membaca kesaksian Aristoteles, kita mendapat kesan seolah-olah Sokrates berpendapat bahwa keutamaan sama saja dengan pengetahuan yang semata-mata teoritis.

Kalau demikian, tidak sulit untuk mengemukakan keberatan serius terhadap pendapat itu. Tidakkah kita semua mengalami sendiri, bahwa kita dapat menyeleweng dari pengetahuan (teoritis) yang ada pada kita? Kalau saya tahu bahwa minum-minuman keras merugikan kesehatan pribadi dan kesejahteraan keluarga, apakah pengetahuan itu sudah cukup supaya saya tidak minum lagi?

Baca juga  Jangan Hanya Deklarasi, Wamenag Harap AICIS Lakukan Aksi Nyata bagi Perdamaian

Akan tetapi bila kita memeriksa dialog-dialog Plato, kita mendapat kesan lain “Pengetahuan” itu tidak merupakan pengetahuan yang semata-mata teoritis, melainkan harus dianggap sebagai pengetahuan tentang “yang baik”, yang telah mendarah daging dalam hati manusia. Dengan menggunakan istilah modern dapat kita katakan, bahwa pengetahuan itu bersifat “eksistensial”.

Melibatkan seluruh kepribadian manusia. Seorang dokter dapat menggunakan dengan baik dan dengan buruk: untuk menyembuhkan dan untuk membunuh. Itulah pengetahuan yang semata-mata teoritis. Tetapi seorang yang mempunyai pengertian sungguh-sungguh mengenai yang baik bagi seorang manusia, tidak bisa lain daripada bertindak baik saja. Seandainya ia bertindak jahat, sudah nyata bahwa dia tidak mempunyai pengertian tersebut.

  1. Dengan pendapatnya bahwa keutamaan adalah pengetahuan. Sokrates menentang relativisme Protagoras dan kaum Sofis lain. Tidak benar bahwa “yang baik” itu lain bagi warga negara Athena dan lain bagi warga negara Sparta; atau lain bagi seorang Yunani dan lain bagi seorang barbar.

“Yang baik” mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia. Itulah sebabnya keutamaan selalu berdasar pada pengertian yang sama. Mempunyai arete berarti memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia. Dengan demikian Sokrates menciptakan etika yang berlaku bagi semua manusia.

Bagi Aristoteles, arete merupakan kepenuhan fungsi sebagai manusia. Dan bagi Aristoteles dalam arete juga terdapat kebahagiaan paling dasar dari seorang individu. ***

Share :

Baca Juga

Perspektif

Misteri Kematian, Kapan dan Bagaimana? Pdt. Frans J. Wantah Menjawab Itu

Perspektif

Allah Dalam Kemurahan-Nya Menyelamatkan Kita

Perspektif

PEMIMPIN Itu untuk Melayani Bukan Dilayani

Perspektif

UGAHARI, Pendapatan Rp140 Miliar, Tapi Pakai Hp Jadul

Perspektif

Adakah Gerejamu Bertumbuh, Ketua Sinode GMIT Pdt Mery Kolimon: Dialog Dengan Agama Lain

Germasa

PPKM Level 3 untuk Wilayah Jabodetabek, DIY dan Bali

Perspektif

PEMIMPIN Jempolan Selalu Konstruktif

Perspektif

FILSAFAT NEGARA: Warga Negara Harus Memiliki Rasa Tentram yang Pasti