BOGOR, Arcus GPIB – BP Mupel Jabar II mengadakan Pembinaan PHMJ dan BBPJ yang diselenggarakan di GPIB Zebaoth Bogor 15 – 16 April 2023. Ketua II Majelis Sinode GPIB Pendeta Manuel Raintung, S.Si, M.M membawakan materi “Siapakah PHMJ” mendapat perhatian peserta,
Berbagai hal menjadi perhatian dalam pembinaan tersebut yang dipertanyakan Pendeta Raintung saat membawakan materinya “Siapakah PHMJ” yang diuraikan transparan dalam pembinaan yang diawali dengan ibadah yang dilayani Pendeta Ezra Sudarsono, S.Si. Teol, KMJ GPIB Cipeucang.
Dalam pembinaan PHMJ dan BPPJ tersebut terungkap salah satu hal adalah Keputusan-keputusan yang ditetapkan masih sering bergantung kepada Ketua Mejelis Jemaat (KMJ) setempat. Hal lainnya adalah PHMJ sering mendapatkan serangan dalam rapat-rapat gerejawi, misalnya, di Sidang Majelis Jemaat (SMJ).
Terhadap hal itu, Pendeta Raintung sangat menyayangkan rapat-rapat gerejawi yang diwarnai dengan kekerasan seperti pukul meja bahkan ada yang lempar kursi.
“SMJ atau sidang gerejawi jangan sampai seperti sidang parpol atau Ormas,” kata Pendeta Raintung yang aktif sebagai Wakil Sekretaris di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta ini. Ia juga mengingatkan soal keputusan-keputusan yang ditempuh dalam rapat-rapat gereja tidak harus selalu bergantung KMJ.
Soal beberapa kegiatan yang tidak ada dalam PKA, Pendeta Raintung tidak mempermasalahkan. Yang penting, katanya, apa yang dilakukan itu bisa dipertanggungjawabkan di SMJ berikut.
Dalam acara yang diikuti PHMJ dan BPPJ serta Presbiter lainnya, Pendeta Raintung meminta kepada PHMJ mau mewujudkan apa-apa yang sudah ditetapkan dalam PKA. “Rapat PHMJ harus ada RTL (Rencana Tindal Lanjut),” kata Mantan KMJ GPIB Horeb Jaktim dan GPIB Kharis Jaktim ini.
Menurutnya, patron pelayanan PHMJ harus melampaui batasan rasial, budaya dan batas hukum sama seperti Yesus berani melakukan terobosan.
Yesus mau berbicara dengan seorang perempuan di sebuah sumur, mengangkat penderita lepra orang-orang yang tersingkirkan, mengampuni orang yang menyiksaNya dan membunuhNya. PHMJ juga adalah pelayan, melayani bukan karena tugasnya, stewardship, berorientasi pemberian diri sehingga orang yang dilayani merasa aman dan nyaman.
Mandat Rohani dan mandat organisasi ada pada PHMJ jadi harus berani untuk saling mengakui dan saling menerima dan mewujudkan untuk bekerja Kolektif secara bersama-sama, Kolegial solider dengan teman sejawat, Kohesif untuk melekat satu sama lain dan Kasih menjadi dasar kebersamaan.
Dikatakan, dengan melaksanakan Koletif, Kolegial, Kohesif dan kasih akan menghindarkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan sebagaimana ada kasus mundurnya PHMJ.
“Ada kasus PHMJ mundur berjemaah ini tidak kolektif kolegial dan laporan itu sampai ke Sinode,” ungkap Pendeta Raintung.
Kepada PHMJ, Pendeta Raintung berharap kepada PHMJ untuk tidak memandang rendah orang ang dipimpin dan paham akan kewajibannya serta memahami pembidangan secara proporsional menyangkut manajemen dalam organisasi.
Meningkatkan kinerja pelayanan semakin baik, memudahkan komunikasi antar fungsionaris merealisasikan merealisasikan PKA jemaat, mengurangi ketegangan sesama fungsionaris PHMJ dan BPPJ, mengurangi ketegangan dengan Pengurus Unit Misioner
“GPIB adalah gereja yang bersekutu dengan Allah dalam misiNya di dunia. Jaga persekutuan, kuatkan pelayanan tampakkan tanda-tanda kerajaan Allah. Mau berjalan dengan mengedepankan kebenaran,” katanya. /fsp