Home / Germasa

Senin, 27 November 2023 - 17:46 WIB

Dari POK Germasa Angkatan I/2023: Memaksimalkan Peran Pendeta

Audiensi Peserta POK GPIB DI Masjid Istiqlal Jakarta.

Audiensi Peserta POK GPIB DI Masjid Istiqlal Jakarta.

Oleh: Frans S. Pong, Pelaksana Redaksi Arcus GPIB

PENDIDIKAN Oikoumene Keindonesiaan (POK) yang digagas Departemen Germasa GPIB usai sudah. Banyak hal yang bisa didapatkan 30 Pendeta GPIB yang merupakan peserta POK termasuk memberikan masukan dalam dialog-dialog yang digelar melibatkan unsur Pemerintah dan Tokoh Agama.

Sesi bina yang dilaksanakan tanggal 20 – 25 November 2023 di Jakarta ini yang melibatkan Pemerintahan dalam hal ini Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS) dilakukan oleh Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan, Tenaga Profesional Bidang Strategi LEMHANNAS RI  yang banyak membekali ke-30 pendeta yang merupakan peserta POK Angkatan Pertama.

Ketua Umum MS GPIB Pdt. Paulus K. Rumambi menyerahkan Sertifikat Kepada Salah Seorang Peserta POK Angkatan I/2023 disaksikan Ketua II Pdt. Manuel Raintung dan Tim Germasa Noory Mangindaan.

Peserta POK I/2923 saat berada di Katedral Jakarta.

Dari kalangan Cendekia Agama, selain Ketua II MS GPIB Pendeta Manuel E. Raintung S.Si, MM juga melibatkan unsusr FKUB yakni Kyai Haji Solaemen, dan dari unsur Matakim ada Liliany Lontoh dan dari agama Hindu serta agama Buddha.

Pembekalan POK Angkatan I tidak hanya sekadar dialog dengan cendekia agama untuk mencari solusi-solusi mengatasi permasalahan keagamaan salah satunya dalah soal intoleransi tapi juga melakukan perkunjungan-perkunjungan di beberapa tempat antar lain ke LEMHANNAS, ke PGI Jalan Salemba Jakarta, Kemenag RI di Jalan Thamrin Jakarta, Perkunjungan ke Masjid Istiqlal, ke Katedral Jakarta, dan ke Pondok Pesantren  Minhaajurrosyidiin Lubang Buaya Jakarta.

Harapannya dari semua kegiatan tersebut diperoleh masukan berarti untuk pendeta-pendeta GPIB sebagai figur pemimpin di jemaat.

Audiensi ke Pesantren Minhaajurrosyidiin Lubang Buaya Jakarta

“Ini adakah Angkatan Pertama upaya kami mendidik para pendeta GPIB untuk siap hadir, tampil ditengah konteks kehadirannya untuk berperan serta membangun bangsa dan negara,” kata Pendeta Manuel Raaintung.

Di Kantor Kemenag di Jalan Thamrin Jakarta itu, Tim POK yang dipimpin oleh Ketua II MS GPIB Pendeta Manuel E. Raintung S.Si, MM diterima oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Dr. H. Wawan Djunaedi, M.A. Pada hari yang sama, usai dari Kemenag Thamrin, peserta POK melakukan kunjungan ke Masjid Istiqlal Jakarta dan diterima oleh Imam Masjid setempat Dr. Ismael Cawidu, Kabid Riayah yang membidangi Pemeliharaan Gedung.

Sebagian Peserta POK bersama Ketua II MS GPIB Pdt. Manuel Raintung dan Kapus PKUB Wawan Djunaedi.

Saat di LEMHANNAS, ke-30 pendeta oleh Laksda TNI (Purn.) Robert Mangindaan Tenaga Profesional Bidang Strategi LEMHANNAS RI diberi materi Kebangsaan. Dalam kesempatan pemaparan itu Jenderal Bintang Dua itu yang dipandu Ketua Dept. Germasa Irjen Pol (Purn) Alex Mandalika banyak menceritakan posisi Indonesia di mata dunia dan bagaimana peran Indonesia yang sangat diperhitungkan oleh dunia internasional.

Baca juga  Dr. Jean Marie Tulung: Kita Penting untuk Menyatu dan Bersatu

Ia juga menjelaskan bagaimana kondisi global dunia dengan terjadinya peperangan antara Rusia dan Ukraina. Usai kunjungan di Kantor LEMHANNAS, ke-30 pendeta bertandang ke Kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonensia (PGI) dan diterima oleh Ketua Umum PGI Pendeta Gomar Gultom dan Sekretaris Umum PGI Pendeta Jacky Manuputty.

Kardinal Suharyo Menerina Kunjungan Tim POK.

Pendeta Gomar Gultom menjelaskan soal Oikumene dan gereja-gereja di Indonesia dengan segala permasalahannya. Dikatakan, semua gereja-gereja Reform masuk sebagai anggotsa PGI, semua gereja-gereja Lutheran masuk anggota PGI, semua gereja-gereja Methodis masuk anggota PGI, dan gereja-gereja Injili di Tanah Jawa dan lainnya.

Saat di Katedral Jakarta yang merupakan Keuskupan Agung Jakarta, peserta POK diterima Romo Suharyo yang banyak berkisah tentang kekristenan di Indonesia dalam perspektif politik berkaitan dengan Piagam Jakarta. Juga disampaikan bahwa Keuskupan Agung Jakarta memberi perhatian kepada UMKM.

Penyajian Materi Dirangakai Dengan Games Menjadi Menarik.

“Jadi, ada gerakan dari umat. Tidak pergi ke restoran, tepi kalau pesan apa-apa pesan dari umat supaya mereka berkembang,” tandas Romo Suharyo. Dikatakan, manusia itu terdiri tubuh, jiwa dan Roh. Tubuh membutuhkan makanan jasmani, jiwa membutuhkan inspirasi.

Dapat disampaikan dari beberapa pertemuan yang dilakukan peserta POK, pertemuan paling mendalam adalah saat peserta POK melakukan audiensi ke Pondok Pesantren  Minhaajurrosyidiin Lubang Buaya Jakarta Timur. Selain diterima Ketua Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin Dr. K.H. Muh. As’ari Akbar M.Si, pada kesempatan itu juga digelar dialog lintas iman yang menghadirkan tokoh agama tokoh-tokoh agama K.H. Soleman dari Islam mewakili FKUB, Bambang dari Hindu, Liliany Lontoh dari matakin Konghucu, KRHT Astono Chandra Dana dari Hindu.

Di Kantor PGI Salemba, Peserta POK Sangat Menikmati Materi yang Disampaikan Fungsionaris PGI Pdt. Gomar Gultom dan Pdt. Jacky Manuputty.

Di Lubang Buaya ini banyak hal yang dipaparkan sebagai masukan untuk 30 pendeta bagaimana seharus hidup bermasyarakat dengan kehadiran pendeta sebagai pemimpin umat. Tidak hanya sekadar mendengarkan apa-apa yang disampaikan Narasumber, banyak hal yang juga dipertanyakan sehunbungan dengan kehadiran pendeta-pendeta di Tengah-tengah umat maupun masyarakat pada umumnya.

Baca juga  Prof. Dede Rosyada: Virus Ideologi Mengganggu, Pdt. Manuel Raintung: Jangan Sorga Melulu

Soal politik dan kerukunan beragama menjelang Pilpres menjadi materi menarik yang banyak dibincangkan pendeta-pendeta dan narabina.

“Soal kerukunan dan kebersamaan di lapangan. Persoalannya itu hanya ada di tataran para elit,” kata Pendeta Charles Manuputty, KMJ GPIB Bahtera Kasih Makassar.

Ketua PGI Pdt. Gomar Gultom Memaparkan Materinya.

Sekretaris Umum PGI Pdt. Jacky Manuputty Saat Memberi Pembekalan Kepada Peserta POK didampingi Tim Germasa Max Hayer.

Hal senada disampaikan Pendeta Claudia Sahertian. Menurutnya, yang terjadi di aras bawah karena terjadi kesenjangan. Ini menjadi bahasan soal intoleransi.

Kehadiran ke-30 pendeta yang merupakan peserta POK GPIB di Ponpes ini mengangkat tema: Pemilu Damai 2024 sebagaimana dijelaskan oleh Ketua II MS GPIB Pdt. Manuel E. Raintung.

“Sesi bina politik 30 pendeta di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin ini merupakan pembelajaran kepada pendeta-pendeta atas kehadirannya sebagai pemimpin di Jemaat,” kata Manuel.

Harapannya dari pertemuan dengan pempinan agama lintas iman ini ada kebersamaan antara pimpinan-pimpinan agama atau tokoh-agama dalam merawat kebhinekaan di Indonesia terlebih lagi dalam masa-masa menjelang Pemilu 2024 ini.

Menarik, Materi yang disampaikan K.H. Solaeman: Umat Apa Kata Pemimpinnya.

Terungkap dalam pertemuan tersebut sebagaimana pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan soal posisi pendeta selaku pemimpin di jemaat menjelang Pilpres ini.

“Pemimpin umat, pendeta-pendeta diharapkan dapat menggiring warganya untuk berperan serta dalam proses Pemilu, baik Pilpres maupun Legislatif dan memilih pemimpin-pemimpin yang kuat dan bijaksana.”

“Saya ambil contoh, menurut Plato sifat-sifat negarawan itu apa? Sifat negarawan itu ada tiga yang mesti dicapai. Pertama dia harus bijaksana yang kedua dia berani, yang ketiga dia punya kontrol diri. Plato tidak pernah bilang Pemimpin itu harus pintar,” tandas seorang narasumber dalam sesi bina tersebut.

Jadi, katanya, tujuan akhir dari politik adalah mencari pemimpin yang adil. Bagaimana politik harus dijalankan, kata dia, politik harus dijalankan untuk meningkatkan kesejahteraan.

K.H. Soleman dari FKUB mengatakan, untuk menciptakan Pemilu Damai TNI, Polri, Pendeta dan PNS tidak boleh memihak. “Ini kalau dijalankan, insyaallah kita yakin bersama Indonesia dalam Pemilu akan berjalan damai, tenang dan akur serta rukun,” kata Soleman mengumpamakan pemimpin umat itu seperti jari tengah.

Dari Matakim, Liliany Lontoh mengatakan, sebagai orang-orang berpendidikan tidak boleh sembarangan bicara dan berharap sebagai pemimpin memiliki hati yang lurus agar bisa melaksanakan tekad iman.

“Dengan tekad iman akan bisa membina diri kita. kita bisa bina diri sendiri, kita bisa bina keluarga untuk damai dan harmonis. Karena kalau keluarga harmonis, saat terjun ke masyarakat menghasilklan kebaikan, negara bisa aman dan damai,” kata Liliany.

Tetapi kita tidak bisa mengingkari bahwa watak orang Indonesia sangat berbeda dengan latar belakang budaya Roma. Sejak konsili Vatikan ke-2 bahkan sebelumnya yang namanya inkulturasi sudah dijalankan. ***

Share :

Baca Juga

Germasa

Wow,…Mensesneg dan Menag Bakal Sinergi Kembangkan Kampus Keagamaan Negeri

Germasa

Dr. Jean Marie Tulung: Kita Penting untuk Menyatu dan Bersatu

Germasa

Rumambi Institute untuk Membangun Keesaan dan Oikumene Kebangsaan

Germasa

Perkenalkan Ibadah Sosial, Prof John Titaley: Umat Jangan Hanya Disuruh Ibadah dan Ibadah

Germasa

Panglima TNI, Kapolri, Pj. Gubernur DKI dan Kapolda Kunjungi GPIB Immanuel Jakarta

Germasa

Menteri Agama: Itu Teror dan Ekstremitas yang Merusak Harmoni

Germasa

Respons Warganet GPIB Mendukung Konven dan PST 2023

Germasa

Letupan-letupan Di Konferdal Germasa GPIB Saat Sesi “Gereja Menghadapi Pemilu”