Home / Germasa

Sabtu, 25 Mei 2024 - 19:59 WIB

Gereja Semakin Menjadi Berkat, PGI: Awas Perpecahan Gereja

Sebuah gereja di Kalimantan Timur, megah. Foto: Frans S. Pong

Sebuah gereja di Kalimantan Timur, megah. Foto: Frans S. Pong

JAKARTA, Arcus GPIB – Makin banyak gereja yang menghadirkan diri sebagai berkat, bukan saja bagi warganya, tetapi juga masyarakat luas. Ini membawa harapan baru akan masa depan perjalanan bersama gereja-gereja di Indonesia.

Demikian Edaran Majelis Sinode meneruskan pesan Majelis Pekerja Harian PGI dalam yang ditandatanagani Ketua Umum PGI Pendeta Gomar Gultom dan Sekretaris Umum Pendeta Jacklevyn F. Manuputty dalam  rangka Bulan Oikoumene 2024 dengan tema: “Menjadi Satu Dengan Sempurna”merujuk pada teks Firman Tuhan dari Yohanes. 17:23 yang ditandatangani

Gereja makin terbuka untuk memasuki pemahaman bersama untuk berbagai hal, walau tak jarang harus melalui dinamika yang tidak mudah.

Namun di sisi lain, dalam pesan itu disampaikan, ada keprihatinan dengan fenomena pertentangan yang berujung pada konflik, bahkan perpecahan gereja.

”Gereja masih menutup diri atas realitas yang mengitarinya, sehingga hidup bagaikan getho. Pada saat sama kita sedang berhadapan dengan perobahan masyarakat yang begitu cepat, mendasar dan meluas sebagai akibat dari transformasi budaya digital.”

Syukur kepada Allah untuk gereja-gereja yang dengan cepat dapat menyesuaikan pelayanan dan pembinaan gerejanya atas perubahan yang terjadi, bahkan telah turut menyumbang bagi perobahan yang terjadi.

Gereja juga semakin aktif menyikapi tantangan dalam bencana alam, perobahan iklim dan pemanasan global. Kesadaran akan perlunya merawat alam ditunjukkan dengan program-program Gereja Sahabat Alam, di tengah ancaman krisis ekologis dewasa ini.

Kerja-kerja bersama harus terus ditingkatkan, agar kehadiran gereja tetap relevan bagi pergumulan hidup warga jemaatnya dan berdampak signifikan bagi masyarakat di sekitarnya.

Baca juga  Perkuat Moderasi Beragama, Menteri Agama Ucapkan Selamat Nyepi

Kesatuan yang sempurna sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa tercinta ini, gereja harus hadir sebagai pemersatu. Pun dalam menyongsong Pilkada serentak 27 November 2024 yang akan datang, perbedaan pilihan tidak harus menyisakan polarisasi di antara kita. Beberapa bulan lagi kita akan melaksanakan Sidang Raya PGI ke XVIII di Toraja dengan tema “Hiduplah sebagai terang yang membuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran” (Efesus 5:8b-9).

”Doa Yesus ini adalah pesan bagi kita semua, gereja-gereja di Indonesia agar hidup dalam kesatuan. Kesatuan umat Tuhan tidak edentik dengan keseragaman. Setiap individu maupun kelompok dalam tubuh Kristus telah diberikan karunia-karunia Roh. Kita justru membutuhkan karunia yang berbeda-beda agar pelayanan kita menjadi lengkap.”

”Dalam perbedaan, pengikut Kristus diminta untuk terus berupaya “Menjadi Satu dengan Sempurna”, dengan menaati perintah Yesus Kristus, yaitu hidup di dalam kasih Allah dan meneruskan kasih itu kepada setiap makhluk dan sesama ciptaan lainnya. Dengan demikian, dunia mengerti dan mengenal cinta Allah melalui Kristus.”

Yesus tahu bahwa para murid memiliki ketegangan akan siapa yang terbesar di antara mereka. Bukankah gereja-gereja juga sering terjebak dalam ketegangan serupa? Untuk itulah Yesus berdoa, meminta kepada Bapa supaya para murid (baca: gereja) menjadi satu, terlindungi dari yang jahat dan dikuduskan dalam kebenaran.

”Jika Kristus sendiri melalui kehadiran-Nya telah menghancurkan tembok-tembok pembatas demi dialaminya kasih oleh semua makhluk, maka setiap orang percaya wajib menghidupi teladan itu. Pemilihan Presiden dan Pemilihan Anggota Legislatif telah usai. Kita akan memiliki Presiden dan Wakil Presiden yang baru pada Oktober 2024 yang akan datang, Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Gibran Rakabuming Raka.”

Baca juga  EDITORIAL: Semua-semua Dipolitisasi, Jangan Golput, Lho...

Di tengah realitas perbedaan pilihan yang lalu, kini saatnya bersatu mendukung pemerintahan baru untuk Indonesia yang lebih baik. Tugas pemerintahan ke depan tidak mudah, di tengah perlambatan ekonomi dunia dan krisis global yang pasti berdampak pada pembangunan di Indonesia.

Selain itu, tahun 2025 juga akan menjadi perayaan 1700 tahun Konsili Ekumenis dunia yang pertama, yakni Konsili Nicea (325), yang melalui konferensinya akan membahas tema “Where now for visible unity?”. ”Doa dan harapan kita, pesan dari pertemuan-pertemuan ekumenis dapat terimplementasi dengan baik di dalam diri setiap gereja anggota.”

”Kiranya pertemuan-pertemuan ekumenis kita tidak hanya sebatas selebrasi yang menghabiskan banyak anggaran namun sungguh membuahkan kebaikan. Biarlah gereja dan seluruh umat semakin berkontribusi dalam merawat alam dan aktif mewujudkan keutuhan ciptaan.”

”Kiranya kata Yunani untuk Oikoumene (Oikos=rumah atau bumi; Menein=mendiami/menghuni) mengingatkan kita kembali bahwa bumi adalah rumah kita bersama, rumah bagi semua ciptaan, sehingga kita bertanggung jawab untuk memelihara dan meneruskan cinta Allah yang kita kenal di dalam Kristus bagi semua ciptaan.” /fsp

Share :

Baca Juga

Germasa

SE Kemenag: Kapasitas Tempat Ibadah Bisa 100 persen di PPKM Level 1

Germasa

Pesparani Tertunda 2 Tahun, Menag Yaqut Cholil Qoumas: Harus Terlaksana Tahun Ini

Germasa

Umat Akan Senang Bila Chattra di Candi Borobudur Terpasang Kembali

Germasa

Gereja Berdakwa, Kenapa Tidak: Lagu Idul Fitri Berkumandang di Immanuel Jakarta

Germasa

Pdt.Rumambi: Dunia ini Bukan Warisan Tapi Titipan yang Harus Dijaga

Germasa

WAMENAG Apresiasi Natal 2021 Berlangsung Khidmat: Terus Rajut Persaudaraan

Germasa

Bantul Jadi Desa Sadar Kerukunan, Menag: Pendowoharjo Cermin Indonesia

Germasa

Penguatan Moderasi Beragama, Kemenag Diminta Siapkan Sistem Digital