Home / Germasa

Minggu, 10 Desember 2023 - 21:04 WIB

GPIB ‘Berkampanye’

Ketua II MS GPIB dan Tim Turun Tangan Melakukan Kampanye.

Ketua II MS GPIB dan Tim Turun Tangan Melakukan Kampanye.

Oleh: Pdt. Boydo Rajiv Hutagalung

SABTU, 9 Desember 2023, GPIB melakukan ‘kampanye’ long march di pusat kota Yogyakarta, tepatnya di sekitar area Malioboro. Namun kampanye yang dilakukan bukan dalam rangka politik praktis untuk mendukung calon wakil rakyat ataupun capres dan cawapres.

Kampanye yang dilakukan adalah dalam rangka politik moral-etis yang jauh lebih mendasar, yaitu “Aksi Damai Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak”. Ada pun peserta Kampanye GPIB tersebut diwakili oleh para para peserta Pelatihan Kebinekaan dan Bina Damai GPIB(PKBD angkatan kedua), sebagian anggota Departemen Germasa GPIB, dan sebagian Majelis Jemaat GPIB Marga Mulya Yogyakarta.

Semangat Melakukan Kampanye Anti kekerasan terhadap Kaum Perempuan.

Ketua Departemen Germasa GPIB, Pnt. Alex Mandalika menjelaskan bahwa “Aksi kampanye long march tersebut merupakan bagian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence) yang  merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kampanye ini dilaksanakan mulai tanggal 25 Nopember hingga 10 Desember.”

Sehubungan dengan momentum Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, “GPIB menegaskan komitmennya untuk menjadikan GPIB sebagai Rumah Perlindungan Bagi Sesama,”demikian ungkap Pdt. Manuel Raintung, selaku Ketua 2 Majelis Sinode GPIB.

Terus Bergerak Mengkampanyakan Anti Kekerasan terhadap Kaum Perempuan.

Aksi Long March bergerak dari lokasi GPIB Marga Mulya, menyusuri area Malioboro sampai titik ujung Jl. Marga Mulya. Di sana salah seorang peserta membacakan naskah deklarasi aksi damai kampanye tersebut.

Baca juga  Seleksi Dilakukan Secara Profesional, Pdt. Johny A. Lontoh: Ternyata, Sangat Berat

Lalu aksi long march menuju ke depan Pasar Beringharjo dan di sanapun naskah deklarasi dibacakan oleh Ketua Majelis Jemaat GPIB Marga Mulya, Pdt. Roro Diah Kusumawati Roni. Beliau menyerukan  tiga poin komitmen GPIB.

Pertama, mendukung setiap gerak langkah pemerintah, Komnas Perempuan, elemen bangsa, dan masyarakat, dalam mengimplementasikan, UU 23/2004 tentang Penghapusan KDRT,  UU 12 /2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, dan UU Terkait Lainnya.

Kedua, membangun relasi bersama Aparat Penegak Hukum dalam menegakan hukum dan memberikan rasa keadilan bagi sesama, terlebih para korban Tindak Pidana Kekerasan Seksual, Perempuan, anak, dan korban krisis sosial lainnya. Serta yang ketiga, menjadikan seluruh Jemaat  GPIB dari ujung Sumatera, Kalimantan, Jawa-Madura, Bali, NTB,  sampai Sulawesi Sebagai Rumah Perlindungan Bagi Sesama.

Ternyata aksi long march ini mendapat perhatian yang baik oleh sejumlah orang di sekitar area Malioboro. Selama perjalanan, beberapa wisatawan merekam aksi long march GPIB . Terdengar beberapa bapak-bapak tukang becak dan ibu-ibu pedagang kaki lima di sekitar yang ikut menyerukan kata “Tolak! Stop!”.

Baca juga  Dari Acara Dialog Karya Kebangsaan: Pdt. Rully Haryanto: Menjalin Relasi, Menangkal Radikalisme

Ada juga yang berkomentar “Kalau ada yang melakukan kekerasan pada perempuan dan anak, pasti saya laporkan pak!”. Bahkan beberapa pedagang di sekitar meminta poster dari peserta long march dan ikut mengangkat dan melambaikannya seolah menyatakan kesepahaman mereka dengan pesan aksi damai tersebut.

Pdt. Boydo Hutagalung, sebagai salah satu peserta dalam long march tersebut berpendapat bahwa, “Menarik sekali aksi damai long march ini dilakukan menjelang  Minggu II Adven, yang mana akan dinyalakan lilin ke-2 yang bertemakan ‘damai’. Kampanye ini seolah berpesan bahwa wujud konkrit daripada membina damai adalah dengan mencegah tindakan kekerasan pada perempuan dan anak.”

Lebih lanjut, Pendeta Jemaat GPIB Marga Mulya Yogyakarta ini menyatakan harapannya “Semoga kampanye yang dilakukan oleh GPIB siang tadi berdampak pertama-tama kepada setiap peserta long march sebagai momen penyerapan gagasan penolakan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Selain itu harapan kita bersama agar kampanye tersebut dapat memantik dan meningkatkan kesadaran warga masyarakat tentang pentingnya mencegah tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Barangkali aksi kampanye ini terkesan sederhana. Akan tetapi kita mengimani apa yang dikatakan dalam syair bait 1 nyanyian Gita Bakti 69, “Biarpun kecil dan sederhana, Tuhan dapat membuat jadi besar.” Amin! ***

Share :

Baca Juga

Germasa

Paskah Nasional 2022 Di Talaud Diharapkan Mampu Mengangkat Potensi Ekonomi Daerah

Germasa

Jelang Pilpres, Pendeta GPIB Sowan Ke Pesantren, Tokoh Agama Beri Masukan

Germasa

Duo Ketua Bidang Dibalik Safari Pelkes GPIB 2023 di Lampung Utara

Germasa

MANTAP. Inspektorat Jenderal Kemenag Terus Pantau Moderasi Beragama

Germasa

Radikalisme dan Politik Identitas Marak, Pdt. Nicodemus: Akibat Kebodohan

Germasa

Idul Fitri 2023, Pendeta, Frater, dan Suster Gereja Menyalami Umat Muslim

Germasa

Presiden Jokowi : Setiap Agama Memiliki Hak Sama dalam Beribadah

Germasa

Rakerdal Germasa Sajikan Sesi-sesi Aktual: Dari Soal Keesaan Hingga Gereja Menghadapi Pemilu