Home / Misioner

Rabu, 5 Juni 2024 - 18:23 WIB

Peran Gereja dalam Moderasi Beragama

Ketua Panitia HUT GPIB Ke-75 Kaltim I, Pdt. Anintye Talakua-Saragih.saat menyampaikan sambutan.

Ketua Panitia HUT GPIB Ke-75 Kaltim I, Pdt. Anintye Talakua-Saragih.saat menyampaikan sambutan.

Oleh : Pdt. Boydo Hutagalung

KEAKTIFAN GPIB Marga Mulya dalam menginisiasi Moderasi Beragama dalam bentuk aneka kegiatan Dialog Lintas Iman, selama 1,5 tahun belakangan membuat Bimas Kristen D.I.Yogyakarta tertarik dengan apa yang diupayakan oleh GPIB Marga Mulya.

Dra. Sri Gunarti Sabdaningrum, M.Pd.K., selaku Pembimas Kristen DIY, kemudian memberi kepercayaan kepada GPIB Marga Mulya untuk membagikan perspektif dan praktik konkrit yang telah diupayakan. Saya, Pdt. Boydo Rajiv Hutagalung diutus untuk mewakili GPIB Marga Mulya untuk menjadi salah satu narasumber dan berbagi dalam forum Dialog yang dihadiri perwakilan para pemimpin Gereja, Sekolah Tinggi Teologi, dan Ormas Kristen di Yogyakarta. Narasumber lainnya dalam forum tersebut adalah Pdt. Christiana Riyadi, S.I.P., S.Th., dari GKJ Kemadang Gunung Kidul.

Pdt. Boydo berfoto bersama Dra. Sri Gunarti Sabdaningrum, M.Pd.K.v (Pembimas Kristen D.I.Y) dan Pdt. Christiana Riyadi, S.I.P., S.Th. (GKJ Kemadang Gunung Kidul)

Acara dilaksanakan pada 14 Mei 2024 di Mercure Hotel. Dalam sambutannya, Dra. Sri Gunarti Sabdaningrum, M.Pd.K., selaku Pembimas Kristen D.I.Yogyakarta, menyampaikan harapannya agar gereja-gereja di DIY lebih aktif dalam menjalin relasi antar gereja, antar pendeta, antar aktivis pelayan. Beliau juga berharap agar gereja-gereja juga memiliki perspektif Moderasi Beragama dan mewujudkan dalam relasi serta program yang nyata bersama dengan masyarakat lintas agama.

Materi yang saya sampaikan bertema “Peran Pemimpin Kristiani Dalam Moderasi Beragama dan Bergereja : Pengalaman Empiris GPIB Marga Mulya”. Dalam pemaparan, saya terlebih dulu menjelaskan tentang perspektif mendasar mengenai moderasi beragama yang hendak meresponi kecenderungan ekstrem dalam beragama. Biasanya disebut eksrem kiri (liberalisme beragama) dan ekstrem kanan (radikalisme beragama).

Walaupun sebenarnya labelisasi seperti itu terlalu bias dan menyederhanakan kompleksitas dalam beragama. Namun bolehlah labelisasi tersebut dipakai (secara hati-hati) untuk membantu memahami setidaknya dua kecenderungan ekstrem dalam beragama.

Liberalisme dalam beragama (ekstrem kiri) adalah cara beragama yang sangat positif dan akomodatif terhadap perkembangan teknologi dan rasionalitas, namun terlalu mengandalkan akalnya dalam menafsirkan ajaran agama sehingga tercerabut dari teksnya, mengorbankan kepercayaan dasar ajaran agamanya demi toleransi yang tidak pada tempatnya kepada pemeluk agama lain. Produk-produk pemikiran ekstrem kiri ini tampak pada, tafsir liberal yang mendukung hubungan seks di luar nikah.

Baca juga  Bicara Upah, Tidak Pantas, Karena Tuhan Sudah Bayar Kita Semua Di Kayu Salib

Di sisi lain, radikalisme dalam beragama (ekstrem kanan) adalah cara beragama yang sangat kaku dalam memahami teks agama tanpa mempertimbangkan konteks. Cara beragama yang demikian meyakini mutlak kebenaran satu tafsir agama, dan sering kali menganggap sesat penafsir lainnya.

Kurang ramah terhadap kebudayaan lokal. Dalam variasi lainnya, cara beragama ini menghasilkan sikap yang anti terhadap negara bahkan menghalalkan cara-cara kekerasan untuk membela keyakinannya.

Kedua cara beragama yang demikian adalah cara beragama yang ekstrem dan dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa, bahkan mengancam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu sikap beragama yang dibutuhkan adalah moderasi Beragama. Cara beragama moderat  menekankan pentingnya internalisasi ajaran agama secara substantif di satu sisi, dan melakukan kontekstualisasi teks agama di sisi lain.

Pdt. Boydo menyampaikan materi tentang “Peran Pemimpin Kristen dalam Moderasi Beragama dan Bergereja”

Ada empat  hal yang menjadi indikator moderasi dalam beragama. Pertama,  Komitmen Kebangsaan, yaitu penerimaan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara, nasionalisme, dan penerimaan terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam konstitusi UUD 1945 dan regulasi di dalamnya.

Kedua, Toleransi, yaitu tidak menganggu hak orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, menyampaikan pendapatnya, meskipun hal itu berbeda dengan yang diyakininya.

Ketiga, Anti-Kekerasan, yaitu tidak mengajarkan dan mendukung tindak kekerasan. Sikap kekerasan biasanya dimiliki oleh kelompok yang menganut suatu paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial dan politik secara cepat dengan menggunakan cara-cara kekerasan/ekstrem atas nama agama, baik kekerasan verbal, fisik, dan pikiran.

Keempat, Akomodatif Terhadap Kebudayaan Lokal, yaitu sikap beragama yang terbuka menerima praktik keagamaan yang mengakomodasi kebudayaan lokal.

Para Peserta Berfoto dengan Pose “Salam Moderasi”

Gereja dan para pemimpin Kristen perlu memahami dan terlibat dalam mengupayakan Moderasi Beragama demi mewujudkan damai sejahtera yang merupakan semangat inti dari Pekabaran Injil. Cara beragama yang ekstem kiri maupun kanan akan mengakibatkan kekacauan, keliaran, anarkisme, ketakutan, dan hal-hal lain yang intinya menyebabkan ketiadaan damai sejahtera.

Baca juga  la Kalahkan Kematian dan Jamin Keselamatan Kekal oleh Kasih Karunia-Nya

Moderasi Beragama, adalah bagian dari memberitakan kabar baik yang dikehendaki oleh Yesus, yaitu memberitakan syalom, mewujudkan damai sejahtera dengan cara: 1)beragama dan bergereja yang tidak anti terhadap umat beragama lain dan yang berdenominasi lain melainkan membangun harmoni, 2) tidak semena-mena menganggap sesat tradisi kebudayaan lokal, 3)tidak berpikir ekstrem sehingga merendahkan agama di bawah sains, 4)dan mengupayakan terwujudnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika serta nilai-nilai Pancasila.

Dalam kesempatan berbagi dengan para pemimpin Kristen di D.I.Yogyakarta itu saya menguraikan tentang apa yang menjadi visi GPIB, yaitu “GPIB Menjadi Gereja yang Mewujudkan Damai Sejahtera bagi Seluruh Ciptaan-Nya.” Visi ini diwujudkan dalam misi GPIB yang intinya adalah untuk mengupayakan kehidupan warga jemaat yang menjadi teladan di tengah masyarakat (dan untuk itu diperlukan sikap moderat), berinisiatif dan berpartisipasi dalam mewujudkan solidaritas sosial dan kerukunan masyarakat, dan mengkonkritkannya dalam bentuk semangat menjalin relasi antar gereja, antar agama, dan upaya melestarikan lingkungan hidup.

Berdasarkan visi dan misi tersebut, GPIB Marga Mulya menyadari baik sikap liberalisme beragama maupun fundamentalisme beragama sama-sama mengancam kehidupan yang harmonis dan bertentangan dengan semangat Kristiani yang diimani oleh GPIB. GPIB Marga Mulya menyadari bahwa kedua sikap ekstrem tersebut bukan hanya terjadi dalam hubungan antar agama tetapi juga antar gereja.

Bahkan kedua pemahaman ekstrem tersebut juga terkadang ditemukan pada sebagian warga jemaat yang tampak dalam pandangan-pandangan negatif atau streotipe terhadap gereja lain, denominasi lain, bahkan agama lain. Oleh sebab itu GPIB Marga Mulya dengan sadar mengambil posisi Moderasi Beragama (dan bergereja) serta berupaya mengintegrasikannya baik dalam penatalayanan internal jemaat dan mempromosikannya di eksternal jemaat. ***

 

Share :

Baca Juga

Misioner

GPIB dan Suku-suku Dayak: Terus Menghadirkan Damai Sejahtera Allah

Misioner

Pdt. Darius Leiwakabessy: Jadilah Pelayan Membanggakan, Dkn. Vicora: Bersedia Diri

Misioner

BERLABUH Dalam Kebaikan Tuhan Tidak Selalu Masuk Akal: IA Setia

Misioner

“Kita Bukanlah Orang Kudus, Kita Orang-orang yang Dikuduskan, Carilah Wajah-Nya Selalu”

Misioner

Kenaikan Kristus Itu Sejarah, Mengkonfirmasi Akan KedatanganNya Kedua Kali

Misioner

Pesan Manis Dua Pendeta GPIB: Tunjukkan Kualitas dan Jaga Sikap

Misioner

“Gereja Harus Tetap Menyuarakan Suara Kenabian Walau Dalam Pergumulan”

Misioner

Si Kembar Jepri dan Janzens Tuntaskan PST dan Pentahbisan 63 Pendeta