Home / Germasa

Senin, 21 Agustus 2023 - 15:50 WIB

Relasi Lintas Agama Harus Terus Digaungkan dan Dikerjakan, Vikaris Karen Puimera: Rekonsiliasi

Vikaris Karen Puimera, S.Si-Teol, saat menyampaikan materi di Konferdal Germasa Singkawang.

Vikaris Karen Puimera, S.Si-Teol, saat menyampaikan materi di Konferdal Germasa Singkawang.

SINGKAWANG, Arcus GPIB – Gereja sebagai bagian dari jejaring sosial memiliki tanggung jawab dalam memperbaiki dan merawat jejaring sosial melalui gerakan ekumenis.

Mengatakan itu Karen Puimera, S.Si-Teol, vikaris tahun pertama penempatan Immanuel Medan pada acara Penelaan Alkitab di Konferdal Germasa Singkawang Senin, (21/08/2023).

Jejaring sosial, kata Karen, merupakan hal yang penting dalam kehidupan sosial, terlebih jejaring sosial dalam budaya digital. Namun seringkali ini menjadi tantangan yang dihadapi gereja dalam menjalankan misinya.

Gerakan ekumenis mencerminkan kesatuan dalam Kristus dan menjadi jejaring yang berperan dalam kehidupan gereja. Merangkul, melakukan transformasi diri serta pengampunan menjadi bagian dari proses rekonsiliasi.

Mahasiswi Strata-2 Universitas Gadjah Mada (UGM) ini meminta rekonsiliasi harus terjadi antara hubungan manusia dengan Tuhan dan juga hubungan manusia dengan seluruh ciptaan. Gereja terus memperkuat jejaring sosialnya dalam semangat ekumenis, menjaga harmoni dalam keberagamana dan berkontribusi pada perdamaian dan kesejahteraan dalam masyarakat.

Baca juga  Bajem Rafflesia Ibadah Pinjam Gedung Gereja, Panitia HUT GPIB Ke-75 Diminta Perhatiannya

Menurut Karen, kehidupan yang dinamis tentu tidak lepas dari adanya gesekan-gesekan yang mengakibatkan pada konfrontasi hingga konflik yang berkepanjangan.

Beberapa aspek yang membutuhkan atensi dan partisipasi  dalam berekonsiliasi. Beberapa hal yang menjadi perhatian saat ini, antara lain Relasi antar denominasi

“Tidak dapat dipungkiri perbedaan doktrin yang ada di suatu gereja, tidaklah sama dengan gereja lainnya. Sehingga dibutuhkan keterbukaan untuk menerima perbedaan-perbedaan yang mendasar, namun sekaligus dapat bekerja sama dalam mengerjakan pelayanan bersama melalui dialog antar-denominasi, dokumen bersama, dan pelayanan Bersama,” tutur Karen.

Baca juga  Soal Kristen dan Islam Diranah Politik: Dua Tokoh Agama Menjawab Ini

Dikatakan, relasi lintas agama masih harus terus digaungkan dan dikerjakan dalam kehidupan yang merajut toleransi. Terlebih kemajemukan masyarakat sering dipertemukan dalam gesekan-gesekan yang kurang baik.

“Konflik sering terjadi tidak hanya secara langsung, melainkan secara online melalui media-media sosial. Maka dari itu dalam menyuarakan suara perdamaian, kita harus menerapkan nilai-nilai persatuan dan rekonsiliasi baik dalam tataran pemuka agama maupun akar rumput,” tandas Karen.

Rekonsiliasi juga harus lahir dari kesadaran bahwa ada pihak yang tidak mendapat keadilan dan perlakuan yang setara, yang membuat ia dilemahkan. Gereja memainkan peran yang penting dalam proses rekonsiliasi dengan masalah-masalah yang ada di sekitar. /fsp

Share :

Baca Juga

Germasa

MENTERI AGAMA Yaqut Cholil Qoumas: Indonesia Bukan Negara Agama

Germasa

Plurilateral Dialogue 2023: Untuk Budaya Toleransi dan Menjaga Kebhinekaan

Germasa

Kompetisi Antar Gereja Menguat, Pdt. Margie Ririhena: Di Ranah Ekumenis Apatis

Germasa

Menteri Agama Ingin Undang Paus Fransiskus, Lihat Indahnya Keberagaman di Indonesia

Germasa

Kisruh Di GMKI, GPIB Tempuh Jalur Hukum, Ada Pencemaran Nama Baik 

Germasa

INTERNASIONAL Bangga Dengan Keharmonisan Beragama Di Indonesia

Germasa

Kardinal Vatikan, Ketum PBNU, dan Tokoh Muhammadiyah Raih Doktor dari UIN Yogyakarta

Germasa

PGI Bersama Lemhannas RI Tandatangani MoU: Andi Widjajanto: Persiapkan Kader